Sebelum masuk ke tahap apa yang
harus dilakukan dalam perjuangan kebudayaan di alam neoliberalisme ini, pertama,
yang harus dipahami adalah kebudayaan tidak bisa lepas dari sistem ekonomi
politik yang sedang berkuasa di satu negeri. Keduanya tak bisa terpisahkan. Untuk
bisa memahami budaya massa yang terjadi sekarang ini, kita harus masuk dalam sejarah
tiga era kepemimpinan politik yang ada di Indonesia.
Era Soekarno
Soekarno menerapkan politik Demokrasi
Liberal dalam artian semua ideologi diperbolehkan tumbuh berkembang. Berdirinya
banyak partai dan ormas (Pemilu thn 1955 diikuti 100an partai) membuktikan hal
itu. Soekarno bahkan mampu memetakan tiga spektrum kekuatan besar di Indonesia,
yakni yang disebutnya dengan Nasionalis, Agama dan Komunis (NASAKOM). Tiga
kekuatan itulah yang coba disatukan Soekarno dalam sebuah cita-cita menjadikan
Indonesia negeri yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan
berkepribadian di bidang budaya.
Ekonomi Tertutup yang dianut
Soekarno terwujud dengan menolak bantuan dari negeri-negeri kolonialist Barat.
Penolakan terhadap intervensi kekuatan asing (dalam hal ini dominasi modal)
pernah pula ditegaskan oleh salah satu pimpinan teras Partai Komunis Indonesia
(PKI) MH. Lukman pada tahun 1959 dalam artikel berjudul ‘Penanaman Modal Asing
Memperkuat Kedudukan Imperialisme di Negeri Kita’. MH. Lukman berkata: “ ….. Kami anti penanaman modal asing karena keyakinan kami bahwa dengan
penanaman modal asing atau dengan imperialisme bukan saja tidak bisa
memperbaiki tingkat penghidupan rakyat dan mengembangkan ekonomi nasional,
tetapi malahan menghancurkan kedua-duanya. Tidak ada kaum imperialis di dunia
ini yang menanamkan kapitalnya di manapun juga berdasarkan perikemanusiaan
untuk menolong sesama manusia”.
Kita tentu ingat seruan mahsyur
Soekarno saat itu: ”Go To Hell With Your Aid..!”
Politik liberal Soekarno justru menjadikan
dinamis di lapangan kebudayaan. Lahirnya Surat
Kepercayaan Gelanggang (yang ditandatangani di Jakarta tanggal 18 Februari
1950, menyatakan "Revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai"), berlanjut dengan polemik budaya antara
Lekra - Manikebu. Selain Lekra(yang
lahir pada 17 Agustus 1950) juga terbangun wadah kebudayaan seperti Lembaga
Kebudayaan Nasional (LKN), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi)
yang didirikan warga Nahdatul Ulama (NU).
Aura politik Soekarno yang anti
penjajahan asing saat itu merembes ke kerja-kerja kebudayaan. Misalnya mobilisasi
massa untuk ganyang Malaysia (karena konsolidasi Malaysia akan menambah kontrol
Inggris di kawasan ini, sehingga jadi ancaman terhadap kemerdekaan Indonesia)
dan aksi boikot film-film import oleh Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis
Amerika Serikat (PAPFIAS) karena dinilai berisi propaganda yang berbahaya bagi
kesadaran massa.
Era Soeharto
Politik Otoriter Orde Baru
terwujud dalam pemasungan: pembatasan hak‑hak dasar partisipasi rakyat dalam
berorganisasi – berpolitik. Itu pun masih ditambah dengan penerapan 5 paket UU
Politik (Pemilihan Umum, Susunan dan Kedudukan MPR/DPR, Partai Politik dan
Golkar, Referendum dan Organisasi Kemasyarakatan), juga dwi fungsi ABRI (militerIndonesia/TNI memiliki dua tugas, yaitu menjaga
keamanan - ketertiban negara serta memegang kekuasaan mengatur negara). Ini
semua semakin mengukuhkan kontrol dan dominasi kekuasaan Orde Baru Soeharto
kepada rakyat. Hanya ada 3 partai politik (PPP – PDI – Golkar); pembredelan
koran, majalah dan pelarangan buku‑buku merupakan ”kebijakan” politik Soeharto
atas nama ”stabilitas” keamanan negara.
Soeharto menganut sistem
Ekonomi Liberal/liberalisasi ekonomi (terbalik 180 derajat dari era Soekarno)
dengan membuka lebar pintu bagi modal-modal luar negeri. Tahun 1967 keluar UU
No 1 tentang Penanaman Modal Asing/PMA. PMA bebas dari pajak negara, PMA
berkuasa penuh atas sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia. Koorporasi
raksasa macam Freeport, Newmont, ExxonMobil, ConocoPhilips, Chevron, British
Petrolium, HalliBurton dan seterusnya silahkan masuk. Pemerintah juga mulai
berhutang pada IGGI, IMF, Bank Dunia, Paris Club.
Politik otoriter Soeharto melahirkan budaya
bisu di rakyat. Tak ada budaya kritis, tak berani beda pendapat dengan
pemerintah karena negara begitu bengis dan tak segan menghantam siapapun yang
mencoba tak ikut aturan. Bahkan bisa-bisa, 5 orang berkumpul tanpa seizin
keamanan setempat bisa jadi masalah besar.
Liberalisasi ekonomi (yang kemudian
diistilahkan pemerintah dengan globalisasi) praktis membawa masuk produk-produk
budaya dari peradaban barat ke Indonesia, mengubah
budaya masyarakat kita. Yang tadinya hanya
mengenal budaya kerakyatan dan sisa-sisa feodal, sejak adanya gelombang neoliberalisme
kita pun tahu: diskotik, Coca Cola, MTV, mode/fashion yang bisa membuat
penampilan para remaja kita seragam.
Kita tentu masih ingat film Ghost
di tahun 1991, trend saat itu adalah seluruh remaja putri kita meniru plek gaya rambut Demi Moore si pemeran
utama film tersebut.Atau ikut pencitraan
(seperti sang model dalam produk di iklan di TV) bahwa kulit yang baik itu
harus putih, rambut yang bagus itu harus lurus, perut yang sehat itu harus rata
(dulu orang ingin jadi gemuk seperti Patih Gajah Mada, Tunggul Ametung, Ken
Arok, Napoleon Bonaparte, Alfred Hitchcock karena gemuk adalah simbol
kemakmuran dan kesuksesan). Maka berbondonglah orang di seluruh negeri membeli
kosmetik pemutih kulit, salon diantri orang yang ingin Ribounding (proses pelurusan rambut secara permanen), gymnasium –
fitness centre digeruduk guna
pelangsingan perut, makanan, minuman, jamu,
obat-obatan dan alat-alat (yang menjanjikan penurunan berat badan dan
mengencangkah perut dalam waktu singkat) ramai dibeli orang.
Era Reformasi/Neoliberalisme
Era sekarang (yang
orang biasa menyebut dengan era reformasi) pemerintahan kita menerapkan liberalisasi
politik dan ekonomi.
Organisasi dan partai politik
berdiri, kebebasan berpendapat - kebebasan pers dijamin undang undang (walau demokrasi
belum sepenuhnya, karena ajaran Marxisme – Leninisme, Ahmaddiyah masih jadi
larangan).
Liberalisasi Ekonomi yang
merupakan kelanjutan era Soeharto dulu semakin membuat rakus imperialisme mencaplok
sumber daya alam negeri kita (minyak, gas, nikel, emas, timah, baja,
bijih besi dst). Mereka terus
berpindah - terus ”browsing” ladang-ladang mana lagi yang bisa dieksploitasi. Ladang
lama tergerus habis, tersisa tinggal limbah dan lingkungan rusak.
Runtuh - bangkrutnya industri
nasional karena memang tidak mampu bersaing dengan korporasi – korporasi asing
dalam hal modal juga SDM/penguasaan technologi.
Karena pembangunan ekonomi/cari
modalnya dengan ngutang ke IMF, Bank
Dunia, Paris Club maka harus bayar ke para lembaga donor internasional tersebut.
Ini menyedot banyak APBN negara yang seharusnya digunakan untuk
maximum program – program sosial.
Neoliberalisme dalam budaya
menjadikan kita terbiasa belanja ke Mall (yang tumbuh subur menggusur
pasar-pasar tradisionil yang dulu becek, bau, plus juga melenyapkan interaksi
positif antar sesama pembeli/pembeli dengan pedagang). Tidaklah buruk kalau
kita ikut budaya maju peradaban barat, mengkonsumsi makanan capat saji di Mc Donald’s,
menikmati musik di Hard Rock Cafe, trance
bersama DJ favourite, nonton film terbaru produk Hollywood di Mega Blitz, ngopi
di Starbucks sambil online atau mendatangi pameran komputer terbesar untuk update informasi terkini dunia
technologi komputer - IT dsb. Hanya saja itu belum jadi budaya yang juga bisa dinikmati
seluruh rakyat negeri ini. Mahalnya biaya sekolah berpengaruh pada sumber daya
manusia Indonesia. Pada akhirnya kita hanya terus mengkonsumsi tanpa mampu
mencipta bahkan menandingi produk-produk maju budaya barat.
Neoliberalisme dalam makna
globalisasi juga telah menghilangkan batas-batas negara dan bangsa dalam
menaikkan berbagai genre kesenian kita ke tingkat dunia. Sepertinya tak ada
sekat dalam menilai bentuk-bentuk kesenian yang berkembang.
Inul bisa saja ditolak di sini,
tapi di belahan dunia lain justru diminati. Gamelan dan
wayang sekarang jadi milik dunia tak hanya Jawa & Bali.Karya
Sastra Pram yang berbahasa Indonesia bisa dibaca warga dunia dengan melalui proses
penterjemahan ke 41 bahasa asing. Si ’Laskar Pelangi’ Andrea Hirata
diantri dan dikejar ratusan orang yang minta tanda tangannya, tidak hanya di Indonesia
tapi juga di Malaysia dan Singapura.
Lalu Bagaimana Perjuangan Kebudayaan Di bawah Neoliberalisme?
Lapangan budaya era neoliberalisme sekarang
ini memungkinkan kita menggunakan demonstrasi,
organisasi,teater, film, vergadering,
rapat, kongres, diskusi, selebaran, pamflet sebagai tehnik dan ekspresi dalam
berjuang.
Dan suatu perjuangan kebudayaan
harus memiliki landasan ideologi, yakni harus punya cita-cita membangun masyarakat
sejahtera, modern, berpemerintahan bersih dan pro rakyat/kerakyatan. Akhirnya
gerakan kebudayaan bermakna politik. Dalam bentuk kongkritnya, membangun
organisasi supaya bisa berbicara seluas-luasnya perihal problem-problem rakyat
berikut jalan keluarnya.
Sebagai referensi bolehlah kita
belajar dari negeri - negeri yang bisa begitu berdaulat karena berhasil
membangun gerakan kebudayaan dan semangat nasionalisme progressif untuk
kemajuan
bangsanya.
Spirit Swadesi-nya
India
Mereka bangun Bollywood untuk
melawan dominasi Hollywood, mereka buat merk minuman Cola Cola
sebagai tandingan Coca Cola. Di awal 2008 ini Tata Motors Ltd. produsen mobil dan kendaraan komersial terbesar di India meluncurkan
mobil termurah di dunia dan berseru: "People's Car". Cara
berpakaian banyak orang India (bahkan oleh warganya yang tinggal di luar India)
tidak melulu ikut trend mode eropa – amerika. Selain sebagai budaya identitas
juga berkaitan erat dengan industri dalam negeri mereka, hasil produk textile dalam
negeri mendahulukan kebutuhan dalam negeri India sebelum diexport. India
maju dalam hal IT dan perkembangan teknologi, punya banyak jagoan-jagoan
software, sampai super komputer tercepat pun tidak kalah dengan
negeri-negeri barat.
Spirit Kamikaze-nya
Jepang
Siapa sangka negeri sekecil
Jepang yang miskin sumber daya alamnya justru mampu menjajah Indonesia (bahkan
dunia) yang super besar ini. Industri otomotif mereka begitu digdaya,
mobil-mobil buatan Jepang mengisi garasi-garasi rumah rakyat, dan kalau
jalan-jalan protokol di seluruh negeri ini sedang macet, dapat dipastikan 100 %
kendaraan yang sedang memenuhi jalanan itu pasti produksi Jepang. Icon-icon
kebudayaan mereka macam komik Manga, Harajuku Style – J Rock/Japanese Rock
mendominasi dunia. Jepang juga mampu mengembangkan tehnik bertani modern/tehnik
bertani hidrolik, membangun lahan pertanian secara indoor bahkan di lantai atas
sebuah gedung pencakar langit.
Spirit kemandirian
China
Kebijakan tegas politik pemerintahan
China (kasus Tiananmen, Falun Gong, konflik dengan Taiwan dan Tibet) di satu
sisi memang menuai banyak kecaman, tapi sisi lainnya China berhasil dalam
menjaga keutuhan dan kemajuan negerinya. Kebijakan tegas lain adalah hukuman
berat (potong jari dsb) bagi pelaku korupsi, bahkan berlaku sampai ke keluarga
inti; si ayah korupsi, ibu dan anak juga terkena hukuman. Pemerintah China (lewat
Departemen Keamanan Publik dan Departemen Publikasi Komite Sentral Partai
Komunis China) juga memerangi pornografi yang dikongkritkan dengan
penutupan ribuan situs porno. Alasannya tentu bukan karena pemerintah takut
terhadap kaum oposan berpropaganda menyerang pemerintah lewat internet, atau bersiap
jadi tuan rumah olimpiade 2008, tapi China memproteksi rakyatnya agar tidak
jadi “sumber nafkah” bagi situs-situs porno yang banyak datang dari luar China.
Dengan jumlah penduduk terbesar di dunia dan ada sekitar 210 juta orang yang
aktif mengunakan internet tentunya akan jadi pasar menggiurkan bagi bisnis situs
porno mencari pelanggan. Kungfu China yang tak pernah mati, terus
bermetamorfosis, menerobos Hollywood, improvisasi cerita tanpa membuang
identitas budaya asal. Kungfu China mengalahkan legenda Highlander dari
Scotland.
Lalu kita sendiri
harus gimana..?
Kita sudah menyimpulkan bahwa
Indonesia sekarang adalah negeri yang terjajah oleh imperialisme modern.
Kongkritnya dengan dikuasainya kekayaan energi dan tambang kita oleh
koorporasi-koorporasi asing, juga kewajiban bayar utang luar negeri adalah
bentuk penjajahan yang lain.
Untuk bisa maju menjadi negeri-negeri
hebat seperti diulas di atas maka kita harus kembali ke semangat Soekarno.
Semangat yang dalam istilah pimpinan politik kita waktu itu sebagai TRISAKTI; menjadikan
Indonesia Mandiri secara ekonomi, Berdaulat secara politik dan berkepribadian
di bidang Budaya.
Sekaranglah
keharusan kita membangun gerakan Pembebasan Nasional; lewat demonstrasi, lewat
organisasi, dengan teater, film, seni musik, seni sastra, vergadering, rapat,
kongres, diskusi, selebaran, pamflet, internet dan berseru: ”Hapus Hutang Luar
Negeri, Nasionalisasi Industri Tambang Asing, Bangun Pabrik (Industri) Nasional
untuk Kesejahteraan Rakyat.
Meluaskan
gerakan pembebasan nasional, menjadikannya budaya bahkan kesadaran luas di
rakyat,
2. Ditulis oleh
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
pd 12-09-2008, - IP: 124.195.17.21
belajar
nah tu bener bgt tuh hrsx kita harus bangga dengan budaya kita jangan terjajah dengan kebudayaan barat, iya kl bangsa indonesia yang m,engikuti budaya barat memang pintar seh masih bisa di toleransi.............. ni ga sdh pd goblok msh z ikut2an mlh ga xerti....... coba tu belajar kaya negara yang maju dan besar dengan budaya kaya negara INDIA,JEPANG,CHINA nah mereka berhasil menjadi negara yang maju dg budaya mereka sendiri.......... SEPERTI INDIA: DENGAN BOLLYWOOD DAN IT BERHASIL JADI INDUSTRI DUNIA YANG BISA MENYAINGI AMERIKA. SEPERTI JEPANG: DENGAN PENGETAHUAN YANG LUAR BIASA BERHASIL MENJADI NEGARA PENGHASIL OTOMOTIF DAN GAYA MANGA DAN HARAJUKU YANG MENDUNIA SEPERTI CHINA: DENGAN HUKUM DAN PRODUK2 MURAHNYA BERHASIL MENGUASI PASAR DUNIA..........
NAH BAGAIMANA DENGAN INDONESIA?................... YANG HANYA BISA JIPLAK SANA JIPLAK SINI GA JLS ARAHNYA MAU KEMANA........ SEKALI LAGI KITA WAJIB BELAJAR DENGAN TIGA NEGARA BESAR IYU AGAR BISA MAJU DENGAN BUDAYA DAN DIRI KITA SENDIRI.......