|
Oleh: Gede Sandra
Lagi-lagi masih
seperti kesimpulan yang lalu: selain menyebabkan kehancuran industri nasional, sulitnya akses kehidupan (pendidikan,
kesehatan, dan rekreasi), dan kerusakan daya beli rakyat (akibat kenaikan
harga-harga), struktur ekonomi neoliberal juga telah semakin
melapangkan jalan pengerukan kekayaan alam nasional oleh Modal asing. Gemuknya
pasar uang dan perbankan nasional (karena
ditopang oleh dan kebijakan ekonomi makro suku bunga tinggi) tidak membawa
perbaikan sedikit pun pada sektor riil (industri). Liberalisasi hanya menambah
tinggi tingkat konsumtivisme rakyat (terutama terhadap komoditi impor: hp,
motor, tekstil, dsb). Produktivitas semakin menurun tetapi konsumtivisme
semakin meningkat.
Negara yang
dipimpin SBY ini masih juga enggan melakukan reformasi birokrasi secara
nasional (memberantas ekonomi biaya tinggi) untuk meringankan beban industri
nasional. Langkah yang dilakukan malahan melelang (privatisasi) puluhan
industri strategis nasional -dengan alasan klasik: penggalian dana dan
perbaikan manajemen. Padahal reformasi birokrasi sudah menjawab soal perbaikan
manajemen, sedangkan renegosiasi utang menjawab soal penggalian dana segar.
Pengerukan kekayaan
alam nasional oleh korporasi asing tak kunjung juga berhenti, malah semakin
masif. Perlu diketahui, saat ini modal dari Cina, India,
Malaysia, Thailand pun semakin meramaikan perampokan kekayaan mineral, migas,
dan batubara dari bumi Indonesia. Sementara itu rakyat dan industri dibiarkan
merana kekurangan pasokan energi. Tidak ada alasan. Negara sudah harus melihat
bahwa jawaban untuk pemenuhan energi nasional adalah dengan melakukan renegosiasi kontrak dengan seluruh korporasi
tambang.
Kenaikan harga
minyak dunia (yang hakekatnya adalah perlawanan politik negara-negara eksportir
minyak dunia ketiga terhadap hegemonik AS) adalah malapetaka bagi masyarakat
global. Tetapi seharusnya tidak bagi Indonesia. Analisa ekonom senior, Kwik
Kian Gie, telah membuktikan bahwa Indonesia malahan diuntungkan dengan situasi
ini. Namun, memang telah diduga, SBY meresponnya dengan mencabut subsidi BBM -dengan
segala konsekuesi ekonomi politiknya (seperti: kehancuran sektor riil dan
menurunnya daya beli rakyat). Seperti yang diramalkan kemudian, datanglah
pasang politik merespon kebijakan tidak populer Negara.
Pasang politik
merespon pencabutan subsidi BBM telah mendorong sebagian besar spektrum gerakan
demokratik beroposisi keras terhadap Negara. Cukup keras karena (bagusnya) sebagian elit
oposan Negara yang pro Kemandirian Bangsa ikut menggalang barisan bersama. Sebut
saja: Rizal Ramli, Amin Rais, Drajat Wibowo, (serta di kalangan mantan perwira
militer) Hendropriyono, Wiranto, Prabowo dll. Hanya saja, karena elit-elit
tersebut masih ragu (terutama terhadap gerakan massa), polarisasi politik
menuju pada sebuah persatuan nasional belumlah jelas.
Demi membendung
pasang politik yang dipimpin oleh Persatuan (ragu-ragu) antara sebagian elit
nasionalis dan gerakan demokratik, selain memberikan konsesi-konsesi ekonomi
(BLT, BKM, dsb), Negara juga berupaya mem-booming
isu pluralisme: kasus FPI di Monas. Kedua taktik tersebut kembali sukses besar
(ingat: booming RUU-APP dan BLT 2005). Duh, gerakan demokratik kembali jatuh
pada lubang yang sama. Luar biasa licik ternyata rezim negara kali ini.
Galang Persatuan Mengikuti Arah Angin 2009
Tidak perlu
menangisi kekalahan dari SBY. Saat ini arah angin politik nasional sedang
berhembus keras ke proses elektoral 2009 -proses perebutan kekuasaan negara. Suka
atau tidak suka, rakyat secara mayoritas masih mempercayai proses politik lima
tahunan ini. Yang tidak percaya hanyalah yang sudah terlalu apatis cenderung
fatalis. Karenanya gerakan demokratik harus lebih mampu bersikap bijak terhadap
proses elektoral nasional yang sudah dimulai saat ini selama setahun ke depan.
Jangan tidak memiliki andil apapun lagi, seperti pada proses elektoral 2004.
Pada pemilu
parlemen 2004, Partai Golkar menang. Sedangkan pemilu presiden (eksekutif)
dimenangkan oleh Partai Demokrat dan Golkar. Kedua kekuatan politik itulah yang
sejatinya diberikan mandat oleh AS untuk menyukseskan sistem ekonomi
neoliberalisme di Indonesia sampai 2009. Dukungan AS pun tidak disia-siakan.
Selama 4 tahun SBY sukses sebagai figur negarawan jujur dan simpatik; sedangkan
Partai Golkar sukses menghimpun kekuatan ekonomi (melalui Aburizal Bakrie,
Jusuf Kalla, dan Surya Paloh). Inilah akibat dari tidak turut campurnya gerakan
demokratik pada proses politik 2004. Kekuatan politik
antek Neoliberal adalah musuh gerakan demokratik. Merekalah para penggadai
bangsa; anti kemandirian nasional. Gerakan demokratik harus memblejeti kedua
kekuatan politik tersebut di seluruh lapangan politik elektoral 2009.
Mengikuti arah
angin 2009 dengan jalan menjadi peserta politik elektoral adalah harga mati.
Tanpa tiket kepesertaan, mustahil kita dapat berbuat banyak di panggung lima
tahunan ini; mustahil pula kampanye pemerintahan baru; haluan ekonomi baru; dan
presiden baru dapat meluas. Karenanya tugas praktis kekuatan demokratik saat
ini adalah bekerja sama membangun persatuan dengan kekuatan politik yang telah
lolos menjadi peserta pemilu. Setidaknya kali ini gerakan demokratik dapat
memiliki perwakilannya di parlemen (daerah sampai pusat) dan menggandeng figur
alternatif bakal calon presiden 2009 (semisal: Rizal Ramli).
Harus
disadari bahwa gerakan demokratik masih
kecil, sedangkan problem pokok nasion sangat besar: kemandirian bangsa vs
dominasi (baca: penjajahan) asing. Karena itu gerakan demokratik tidak boleh
menutup diri terhadap persatuan nasional dengan elemen-elemen lain, melainkan
harus menjadi elemen yang paling aktif menggalangnya. Elemen lain di luar
gerakan demokratik, seperti: militer (termasuk itu purnawirawan), pengusaha
nasional, akademisi, polisi, elit politik, budayawan, dsb yang pro terhadap
kemandirian bangsa adalah sekutu utama yang wajib dirangkul. Hilangkan
keraguan, ayo galang persatuan! Tanggalkan segala perbedaan dan gali persamaan.
Quote this article on your site | Dilihat: 282 | Cetak | E-mail
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |