|
Jakarta
(14/09/08)-berdikarionline: sekitar 3000 massa
dari Dewan Pimpinan Nasional- Serikat Rakyat Miskin Indonesia
(DPN-SRMI) menggelar aksi massa
di kantor Biro Pusar Statistik (BPS) dan kantor Departemen Sosial (Depsos), di
Jakarta. Massa
yang didominasi ibu-ibu dan membawa serta anaknya ini, mendapat dukungan
solidaritas dari buruh dan mahasiswa, yakni Front Nasional Perjuangan Buruh
Indonesia (FNPBI) dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Dalam
aksi itu, massa memprotes data yang dikeluarkan BPS mengenai angka kemiskinan
Indonesia, yang jelas-jelas sangat berbeda dengan fakta dilapangan.
Dika
Mumammad, ketika dikonfirmasi berdikari-online
mengatakan, data yang dikeluarkan BPS sangat tidak akurat, dan terkesan menjadi
alat -kepentingan pemerintah. Akibatnya, banyak orang miskin yang seharusnya
mendapatkan dana BLT malah tidak terdaftar dan terkesan diabaikan oleh
pemerintah. Untuk penyaluran BLT tahun ini misalnya, tegas Dika, "data yang
menjadi acuan BPS masih pada data tahun 2005; padahal, angka kemiskinan terus
bertambah dan data tahun 2005 sendiri sudah banyak diprotes berbagai kalangan
karena tidak akurat".
SRMI
menuntut, agar pemerintah segera melakukan pendataan ulang tentang angka
kemiskinan, dengan melibatkan lembaga independen, LSM, organisasi massa, dan
masyarakat. Selama proses pendataan berlansung, proses penyaluran BLT memakai
ukuran yang disebutkan oleh Bank Dunia. Jika ada kekurangan anggaran karena
penerima BLT membengkak, maka seharusnya pemerintah mencari alternatif
pendanaan, seperti keuntungan dari migas dan tambang, penghapusan utang luar
negeri, menarik surat obligasi (BLBI), dan lain-lain.
Selain
BLT, massa juga mempersoalkan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR), PNPM-M, raskin,
dana BOS, dan program social lainnya, yang menurut pengunjuk rasa tidak sampai
ketangan rakyat miskin. Dana-dana tersebut, selain banyak dikorup oleh
birokrasi pemerintahan (pusat sampai RT/RW), juga sangat susah memperolehnya
karena berbagai keruwetan birokrasi yang disengaja oleh pemerintah.
Bagi
SRMI, program pemerintah seperti BLT, KUR, PNPM-M, Raskin, dana BOS, tidak akan
sanggup menghapuskan kemiskinan, karena cakupan program tersebut jauh lebih
kecil ketimbang dampak ekonomi akibat kebijakan ekonomi pemerintah yang
pro-pasar (Neoliberalisme). Sehingga diperlukan sebuah solusi strategis,
terutama langkah penyelamatan terhadap seluruh kekayaan alam kita; minyak, gas,
batubara, mineral, hasil hutan, pertanian, dan lain-lain. Pemerintah harus
berani mengambil alih (kontrol) terhadap
sumber-sumber kekayaan alam yang sifatnya strategis dari kepemilikan asing, dan
merumuskan haluan ekonomi baru, yang bertumpu pada kesejahteraan rakyat.
Setelah
menyampaikan tuntutannya, massa bergerak kekantor Departemen Sosial (Depsos)
untuk menyampaikan tuntutan yang sama. (Rh)
Cat: Foto diambil dari ANTARA/Dwi Prasetya
Quote this article on your site | Dilihat: 470 | Cetak | E-mail
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |