Mengharapkan Presiden Pro-Rakyat
Senin, 25 Agustus 2008

AJ Susmana

 

posisi.jpgTak hanya jumlah Partai yang semarak di Pemilu 2009, Puluhan Calon Presiden pun ikut menyemarakkan Pemilu ketiga di masa reformasi ini. Ada stok lama ada pula stok baru; baik berpartai atau pun hanya bermodal keberanian dan ketenaran. Puluhan calon presiden 2009 itu yang setidaknya sudah meramaikan media massa adalah Megawati, Gusdur, Jusup Kalla, Soesilo Bambang Yudhoyono, Sri Sultan, Agung Laksono, Wiranto, Sutiyoso, Prabowo, Soetrisno Bachir, Din Syamsuddin dan masih ada beberapa lagi seperti Rizal Ramli, Dita Indah Sari pun termasuk Fajroel Rachman yang sedang berjuang melalui jalur perseorangan.

 

Jauh-jauh hari sebelum gong permulaan pemilu 2009 ditabuh, para capres sudah berusaha memperkenalkan diri ke massa; dilengkapi dengan iklan kampanye dan jargon-jargonnya; via media cetak maupun elektronik yang biaya kampanyenya pasti tak terjangkau oleh calon-calon presiden yang tak bermodal besar seperti Dita Indah Sari, misalnya. 

 

Debat soal kelayakan calon presiden pun muncul, baik di panggung parlemen maupun di luar parlemen. Sayangnya debat kelayakan capres ini lebih banyak didasarkan pada pertimbangan untuk memuluskan capresnya masing-masing dan menghalangi majunya capres lawan. Akibatnya yang tampak adalah situasi jegal-menjegal yang tidak fair seperti permainan bola yang tak menonjolkan seni bermain bola. Yang penting lawan diganjal dulu atau dijatuhkan dulu sebelum bermain.

 

Karena itu pula kelihatan betul bagaimana kriteria capres yang diajukan selalu mengarah pada individu capres tertentu. Misalnya soal latar belakang pendidikan: harus sarjana atau tidak harus, tentu mengarah ke Megawati, putri Bung Karno yang memang tidak sarjana. Padahal banyak terbukti dalam sejarah, yang tidak bergelar sarjana pun dapat memimpin bangsa dengan baik. Tidak perlu contoh karena pembaca dapat menyebutkan sendiri. Soal kesehatan, tentu mengarah ke Gusdur yang dalam berjalan harus dituntun dan dipandu. Padahal, Jendral Soedirman yang berjuang gerilya saja kemana-mana juga harus ditandu dan di beberapa negara, orang cacat, termasuk yang buta sudah bisa dipercaya untuk memimpin. Misalnya  David Alexander Paterson, Gubernur Negara Bagian New York yang dilantik pada tahun ini untuk menggantikan Eliot Spitzer yang tersandung skandal seks.

Masih soal kriteria capres,  soal usia pun mulai digugat. Kaum tua, yang berusia di atas 60-an dianggap tak layak menjadi presiden lagi di tengah krisis bangsa yang akut. Kaum tua pun dianggap lamban dan konservatif dalam menghadapi perubahan jaman. Bangsa dianggap lebih akan selamat bila dipimpin kaum muda, yang secara historis perjuangan kemerdekaan nasional, kaum muda memimpin ini menemukan landasannya. Kaum muda pun dipatok dalam soal umur, bukan dalam soal semangat, yakni di bawah lima puluh tahun atau berusia empat puluh tahunan.

PKS pun tampak menyambut dan mendorong arus munculnya kepemimpinan kaum muda dalam makna biologis ini. Tifatul Sembiring, Presiden PKS menyatakan agar tokoh-tokoh tua tidak maju. Menurut, Hidayat Nur Wahid, Mantan Presiden PKS, partainya memang bulat akan mencalonkan presiden yang berusia di bawah lima puluh tahun. Walau undang-undang tidak membatasi umur maksimum capres, tentu saja wacana ini membuat gerah kaum tua yang berumur 50 tahun ke atas. Jusup Kalla pun dalam suatu kesempatan meminta agar kaum muda tidak hanya minta jatah, tapi juga berjuang untuk itu. Menanggapi pernyataan Tifatul sembiring, Megawati pun meminta Tifatul untuk maju berkompetisi, pun calon lain bahkan dari jalur perseorangan. Sukardi Rinakit menganggap tokoh-tokoh tua dalam pemilu 2009 berada dalam tikungan terakhir. Bila gagal dalam pemilu 2009, lebih baik berpikir di jalur lain dalam soal pengabdian pada bangsa.

Perdebatan-perdebatan soal kriteria capres 2009 di atas memang tak substansial bila diletakkan dalam banyaknya problem yang dihadapi rakyat Indonesia.  Umur, Latar Belakang Pendidikan, Kelayakan Jasmani, jenis kelamin bahkan...bila diperdebatkan justru hanya akan menghabiskan waktu dan energi, baik psikhis maupun fisik. Itu pun justru tak dapat menyentuh persoalan pokok rakyat Indonesia. Dalam soal pembangunan kesadaran politik, juga tak mendidik. Lebih baik perdebatan antar calon presiden yang akan maju dalam kompetisi pemilu 2009, sudah mulai mengarah pada soal program dan jalan keluar untuk krisis yang melanda bangsa.

Dengan demikian rakyat yang akan memilih calon-calonnya pun mulai dapat mempelajari program dan jalan keluar apa yang ditawarkan para capres agar bangsa ini bisa keluar dari krisis. Dengan demikian rakyat pun dapat belajar dengan baik tentang politik dari para capres dan dapat menilai lantas memilih presiden pro rakyat  yang memang selalu diharapkan. 
Quote this article on your site | Dilihat: 260 | Cetak | E-mail

Isi Komentar
RSS comments

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code
Saya Tidak Mau Ada Komentar Lain Masuk Email

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
JSN ImageShow - Joomla 1.5 extension (component, module) by JoomlaShine.com

Bravo ! PAPERNAS

Sosialisasi PBR dan Caleg PBR Lampung

 

 

Dona Sorenty Moza, Caleg Partai Bintang Reformasi, PBR, DPRD Lampung Barat via SMS memberitahukan bahwa di Lampung akan dilaksanakan Pertemuan sosialisasi PBR dan sosialisasi caleg PBR. Pertemuan akan dilaksanakan pada hari sabtu dan minggu, pukul 19.30 di Pekon Fajar Bulan dan Bedeng 1 Kecamatan Waytenong Lambar. Pertemuan bertujuan untuk konsolidasi organisasi PBR dalam rangka memenangkan pemilu 2009. Untuk kejelasan lebih lanjut bisa menghubungi Donna di 081540057149. (ajs)

 
Persatuan Buruh reformasi : Segera Batalkan SKB Empat menteri!

Reporter : Ulfa Ilyas

di ambil dari OkezoneJakarta, 30/10/2008 : Sekitar 80-an Aktivis Buruh, yang tergabung dalam Persatuan Buruh reformasi, melakukan aksi massa menuntut pembatalan SKB empat menteri di depan Istana Negara, kamis, 30/10/08. Para buruh mememulai aksinya di depan kantor Bank Indonesia (BI), dan selanjutnya melakukan longmarch ke istana Negara. Aksi buruh tersebut cukuplah unik, karena ketika hendak menuju Istana Negara, massa aksi melakukan Jalan dengan cara berjalan mundur, "kami berjalan mundur sampai  istana Negara menunjukkan bahwa kehidupan ekonomi dibawah pemerintahan SBY-JK mengalami kemunduran"  Demikian Ungkap Desi Arisanti, Sekjend FNPBI, kepada berdikari online.

Selengkapnya...
 
FNPBI Kota Bali Menolak SKB empat Menteri

Bali, 29/10/07, berdikari-online: SKB tentang perubahan pengaturan pengupahan, yang baru saja ditandatangi oleh empat menteri, tanggal 24 oktober lalu, mulai mendapat penolakan oleh kaum buruh di berbagai kota di Indonesia, termasuk Bali. Dalam aksinya, 300-an buruh yang melakukan aksinya di gedung DPRD tingkat I Bali, menilai SKB 4 menteri sebagai pengalihan beban krisis financial di AS ke pundak buruh Indonesia. Massa aksi, yang didominasi ibu-ibu dan membawa anaknya, rata-rata merupakan buruh yang belum mendapatkan upah sesuai dengan UMP.

Selengkapnya...
 
Wawancara Dengan Red Flag dan Efek Rumah Kaca

posisi.jpgDitengah imperialisme yang berkecamuk, lapangan kebudayaan merupakan salah satu medan pertempuran yang tak kalah pentingnya, bahkan sama penting dengan lapangan perjuangan lainnya. Tak tanggung-tanggung, serangan kebudayaan barat yang berkehendak memperluas akumulasi profitnya (industri hiburan, entertetaint), serta memandulkan fikiran rakyat, utamanya kaum muda.

 

Seni dan politik adalah dua sisi yang tak terpisahkan. Seni berpolitik adalah bagaimana merespon, mendorong, dan mengubah realitas agar lebih berpihak kepada keadilan dan demokrasi bagi semua orang. Sehubungan dengan itu, redaksi Berdikari Online bekerjasama dengan Tim Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER), telah melakukan wawancara terhadap dua grup band, yang menurut kami bisa mewakili kecenderungan "genre" kaum muda, yaitu Red Flag dan Efek Rumah Kaca (ERK).

 

Red Flag merupakan Band Reggae asal lampung. Kelahirannya bukan saja untuk mendendangkan musik-musik pembebasan, tapi rata-rata personilnya adalah aktifis jalanan yang terlibat lansung dengan perjuangan massa rakyat; demonstrasi, pemogokan, rally, dan sebagainya. Red Flag digawangi oleh Dompak (Depe redflag), sang vokalis yang sudah malang melintang dalam gerakan rakyat. Dengan musik reggaenya, Red Flag melantungkan lagu-lagu seperti; Buruh Tani, Fight For Socialism, Tidur Jangan, Darah Juang, dan banyak lagi. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Efek Rumah Kaca, merupakan grup band muda yang terbentuk tahun 2001 dengan lima orang personil. Awalnya bernama hush. Pada tahun 2003 personil menyusut menjadi 3 orang ( pianis dan gitaris mengundurkan diri) dan ganti nama menjadi superego dan ganti lagi menjadi ERK pada tahun 2003 akhir. Mulai rekaman Agustus 2005. Ikut Kompilasi Paviliun Do RE Mi dari Paviliun Records dengan lagu melankolia pada Mei 2006. Ikut Kompilasi Today of Yesterday dari Bad Sector Records dengan lagu Di Udara pada Juli 2006. Release debut album Self Titled "efek rumah kaca" pada September 2007. Efek Rumah Kaca memilih untuk melakukan sesuatu: mengangkat tema-tema yang jarang [atau belum berani?] dikumandangkan band pop. Dengan musik indah. Dan penulisan lirik yang puitis. Efek Rumah Kaca jelas peka dengan persoalan sosial, politik, dan ekonomi yang melingkupi bangsa kita saat ini. Silahkan kunjungi http://www.myspace.com/efekrumahkaca

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikut Petikan Wawancara Mereka:

Selengkapnya...
 
Lapak Digusur, Pedagang Melawan; 18 aktifis ditangkap!

Magelang, Jawa Tengah (09/10/07): Ratusan massa menggelar aksi massa menolak rencana pemkot Magelang yang akan menggusur Ratusan PKL Jalan Mataram, dekat Pasar Rejowinangun Kota Magelang, Jateng, Kamis (9/10). Massa yang tergabung dalam Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) menilai bahwa kebijakan tersebut meminggirkan ratusan orang yang menggantungkan ekonomi keluarganya di daerah tersebut.

Selengkapnya...
 
Rizal Ramli Mengagas Kepemimpin Politik Alternatif dan Haluan Ekonomi Baru di Konvensi Capres PBR
Jakarta (09/10/07): Ratusan orang memadati salah satu ruangan di Hotel Nikko, Jakarta. Mereka umunya datang dari berbagai kelompok masyarakat; kalangan intelektual, buruh, kaum miskin kota, tani, mahasiswa, dan pengusaha. Dengan berdesak-desakan, massa tersebut tetap antusias mengikuti acara "deklarasi Rizal Ramli" untuk mengikuti konvensi Capres Partai Bintang Reformasi (PBR). Dalam acara tersebut, hadir pula ketua umum PBR, Burzah Sarnubi, dan panita konvensi capres PBR.
Selengkapnya...
 
SRMI Bandar Lampung: “Tunda Pengesahan RAPBD Kota Bandar Lampung”

 

Bandar Lampung, Berdikari—Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Lampung, hari ini (17/9) mendatangi Pemerintahan Kota Bandar Lampung menuntut Penundaan Pengesahan RAPBD Kota Bandar Lampung 2008. Di samping itu SRMI Lampung juga menuntut pembesaran alokasi Anggaran Kesehatan dan Pendidikan serta Pemangkasan alokasi anggaran yang tidak pro rakyat. Demikian disampaikan Donna, humas aksi, via sms kepada redaksi  berdikari.(ajs)

 
Angka Kemiskinan di Manipulasi, Rakyat Miskin Datangi BPS

Jakarta (14/09/08)-berdikarionline: sekitar 3000 massa dari Dewan Pimpinan Nasional- Serikat Rakyat Miskin Indonesia (DPN-SRMI) menggelar aksi massa di kantor Biro Pusar Statistik (BPS) dan kantor Departemen Sosial (Depsos), di Jakarta. Massa yang didominasi ibu-ibu dan membawa serta anaknya ini, mendapat dukungan solidaritas dari buruh dan mahasiswa, yakni Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Dalam aksi itu, massa memprotes data yang dikeluarkan BPS mengenai angka kemiskinan Indonesia, yang jelas-jelas sangat berbeda dengan fakta dilapangan.


Selengkapnya...
 
Ultah "12 tahun Deklarasi PRD": Persatuan dan Perjuangan Bersama Merebut Kekuasaan
Jakarta-Berdikari Online (26/07/08): 12 tahun yang lalu, puluhan pemuda mendeklarasikan kelahiran partai politik baru, yang memiliki garis politik radikal-progressif. Peristiwa itu telah menjadi salah satu titik perubahan yang melengserkan rejim Orde baru dan perlahan-lahan memperluas ruang demokrasi. Hari ini (23/05/07)  anggota, mantan dan simpatisan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang tersebar di berbagai partai politik, jawatan pemerintah, LSM, pekerja sosial, organisasi massa, Serikat Pekerja, dan lain-lain, melakukan perayaan atas "12 tahun deklarasi" Partai Rakyat Demokratik (PRD). Acara ini berlansung sangat sederhana di kantor DPP Papernas, jl. Tebet Dalam II.G nomor 1, Jakarta Selatan.

 

 


Selengkapnya...
 
Kronologi Aksi FRM Bima Menolak Tambang Pasir Besi PT Indomining.

Front Rakyat Menggugat

Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas), Ikatan Mahasiswa Wera (IMAWER), Ikatan Mahasiswa Ambali (IMAWI), Persatuan Rakyat Pai (PRP), Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), Serikat Tani Nasional (STN)

 

Kronologis Penangkapan Petani di Desa Pai, Kec. Wera, Kab. Bima

 

PT. Jagad Mahesa dan PT. Indomining melakukan penggalian pasir besi dengan berdasarkan SK Bupati Bima Nomor 406 dan 407 Tahun 2004 lalu. Namun, disinyalir mekanisme perijinan yang dikelurkan oleh bupati itu bermasalah, karena bertentangan dengan kepentingan masyarakat dan belum melalui proses AMDAL. Keberadaan PT Indomining PT. Jagad Mahesa, dan terakhir PT. Lianda Intan Mandiri mengeksploitasi pasir besi di desa Pai tersebut, telah menyebabkan dampak negatif kepada masyarakat sekitat, seperti menganggu areal persawahan yang berada di belakang pemukiman warga, tumpukannya mengganggu pemukiman warga, mengganggu mata pencaharian nelayan, dan menimbulkan abrasi pantai. Inilah yang menjadi alasan masyarakat Bima yang tergabung dalam Front Rakyat Menggugat (FRM) menolak tambang galian tersebut.

 

Selengkapnya...
 
KPK dan ExxonMobil didemo Rakyat Miskin


Laporan: Ulfa Ilyas, reporter Berdikari Online

 

Jakarta-Berdikari Online (10/07/08): Kamis siang, ratusan rakyat miskin Jakarta kembali mendatangi kantor pusat ExxonMobil, di Sudirman. Massa yang rata-rata ibu-ibu dan membawa anaknya ini berasal dari DPW-Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) DKI Jakarta. Massa memulai aksinya dari Benhill melakukan longmarch ke depan kantor Exxon. Ketua SRMI DKI Jakarta, Hendri menyatakan, Indonesia sebenarnya negara yang cukup kaya raya, berbagai kekayaan alamnya seharusnya cukup untuk memberikan kesejahteraan pada Rakyat. Akan tetapi, kekayaan alam yang melimpah tidak jatuh kepada rakyat, justru diserahkan SBY-JK kepada pemilik modal asing, antara lain ExxonMobil. Karena SBY-JK dan beberapa elit politik, seperti Golkar dan Demokrat lebih rela menjadi "jongos" bagi kepentingan asing, maka seharunya, rakyatlah yang harus bergerak dan menuntut nasionalisasi terhadap perusahaan tambang asing.

 

 


Selengkapnya...
 
Buruh Tuntut Batalkan Kenaikan BBM, Datangi Exxon dan Gedung DPR

Oleh : Ulfa Ilyas

 

FNPBI.jpg

Jakarta, 30/06/2008/ : Sekitar 80-an orang massa yang tergabung dalam Front  Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) kembali lagi melakukan aksi ke Exxon Mobil dan gedung DPR. Dalam aksi tersebut mereka menuntut kepada pemerintah Untuk membatalkan Kenaikan Harga BBM, Nasionalisasi Industri Pertambangan dan hapuskan Hutang Luar Negeri. Selain itu mereka juga menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak memilih lagi partai politik yang pro terhadap kepentingan-kepentingan asing dan partai pendukung kenaikan  harga BBM dan menentang hak angket; Pemerintahan SBY-JK ( Golkar dan Demokrat). 

 


Selengkapnya...
 
Liputan Aksi Mogok Makan LMND dan FRM di Berbagai Daerah

 

Laporan dari Ulfa Ilyas, Jakarta - Kamis, 30 Mei 2008

 
Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menggelar aksi mogok makan serentak di berbagai kampus di Indonesia dengan menggunakan alat LMND, Front, atau kampus-kampus untuk menuntut pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM. Tuntutan utama aksi mogok makan adalah; Batalkan kenaikan harga BBM; Nasionalisasi Industri pertambangan asing dan penghapusan Utang Luar Negeri; tinggalkan elit politik pro-asing (imperialisme); Pemerintahan SBY-JK( Golkar dan Demokrat).  Berikut liputan daerah untuk sementara;

 

mogok_makan_600_x_450.jpgJakarta (26/05/08) : di Jakarta, aksi mogok makan yang di beri nama Persatuan  Mahasiswa Jakarta (PMJ) dilakukan di tiga kampus, yaitu kampus ISIIP, universitas Mercu Buana, dan UPI YAI Salemba. aksi mogok makan ini di lakukan sebagai protes mereka terhadap pemerintahan SBY-JK karena telah menaikkan kebutuhan Harga bahan bakar Minyak, dimana kenaikan harga bahan bakar minyak akan berdampak luas pada seluruh aktifitas perekonomian rakyat (kecil, menengah dan besar) dan dirasakan oleh  lapisan masyarakat yang berada di posisi menengah-kebawah.  Dengan  kenaikan harga BBM maka akan memicu kenaikan harga-harga bahan pokok, dimana sebelumnya bahan-bahan pokok telah melonjak harganya karena krisis pangan dunia. Mereka juga mengatakan, bahwa situasi industri nasional  sangat tergantung pada pasokan bahan bakar minyak, akibatnya industri nasional kita akan sangat terpukul dan akan tergilas badai krisis akibat kenaikan harga  bahan bakar minyak tersebut.

 

Aksi mogok makan tersebut dilakukan oleh 6 orang peserta selama tiga hari berturut-turut. Rencananya,  jika pemerintah tidak juga mendengarkan aspirasi mereka, maka aksi mogok makan tersebut akan bertambah lagi waktunya selama enam hari. Mereka meminta pemerintahan SBY-JK untuk membatalkan kenaikan harga BBM;  Turunkan harga-harga sembako, Bebaskan Aktifis  mahasiswa dan rakyat yang tertangkap saat aksi menentang kenaikan BBM di seluruh Indonesia, Nasionalisasi Industri pertambangan Asing; Penghapusan Hutang Luar negeri, dan seruan untuk meninggalkan elit politik pro-asing yaitu pemerintahan SBY-JK (Golkar dan Demokrat). Nugroho, Koordinator umum Posko Mogok Makan mengatakan bahwa aksi-aksi serupa akan dilakukan terus-menerus dibeberapa kampus yang sudah diputuskan oleh teman-teman dari PMJ.

 

Selengkapnya...
 
MayDay 2008: Nasionalisasi Pertambangan Asing

  “Padamu Negeri kami berjanji

Padamu Negeri kami berbakti..”

 

(Potongan lagu wajib Padamu Negeri ciptaan: Kusbini yang dinyanyikan bersama-sama oleh 1000-an massa Papernas di halaman Gedung GKBI Jakarta)

 

aksi_29_april.jpgBerdikari, Jakarta- Untuk kelima kalinya kantor ExxonMobil Jakarta ‘digoyang’ oleh massa pendukung Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas). Seribuan massa yang berasal perwakilan buruh, mahasiswa, dan kaum miskin perkotaan –lengkap dengan baliho, umbul-umbul, spanduk, poster,  yel-yel, lagu, beserta orasi-orasinya- kembali datang untuk menyemarakkan suasana ‘jam makan siang’ di halaman Gedung GKBI Jalan Jenderal Sudirman hari ini (29/04).

Selengkapnya...
 
Rakyat Miskin Jakarta Tuntut Nasionalisasi ExxonMobil

dsc01153_450_x_600.jpgJakarta, Berdikari -Hari Rabu siang (23/04) kantor ExxonMobil di Jalan Jenderal Sudirman didatangi 1500-an massa dari Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI). Massa yang didominasi oleh ibu-ibu ini menuntut nasionalisasi Industri industri pertambangan untuk pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan sembako murah.

 


Selengkapnya...
 
Rakyat Miskin Makassar Tuntut Nasionalisasi INCO demi Sembako Murah


Makassar, Berdikari- Sekitar 1100-an massa yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Wilayah Serikat Rakyat Miskin Indonesia (DPW-SRMI) Sulawesi Selatan pada hari Selasa siang (22/04) mendatangi Kantor PT. INCO di Kota Makassar. Mereka menuntut dinasionalisasinya PT. INCO demi sembako murah dan pendidikan gratis di Sulawesi Selatan.

 


Selengkapnya...
 
Dita Indah Sari memperoleh penghargaan "Ten Most Oustanding Women"

 

a_tribute_to_women-20080423-003-wawan.jpg

Jakarta, Berdikari- Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Papernas, Dita Indah Sari, memperoleh penghargaan sebagai "salah satu dari sepuluh tokoh yang paling memberi inspirasi pada perempuan Indonesia". Acara penghargaan yang bertajuk "Tribute to Women" digelar pada Selasa malam (22/04) di Sky Building Plaza Semanggi oleh Kantor Berita Antara.

 


 

Selengkapnya...
 
PKL Siantar Menolak Penggusuran Paksa

Siantar-berdikari (21/04/08) : aksi penggusuran semakin marak di berbagai kota. Di Kota Siantar, pihak siantar hotel menggusur paksa pedagang kaki lima dengan cara meletakkan batu besar di tempat mereka berdagang. Tindakan sewenang-wenang pihak hotel ditanggapi dengan aksi massa oleh pedagang kaki lima yang didukung mahasiswa dan petani siantar.

 

Selengkapnya...
 
KCPSI: Calon Perseorangan atau Tunda Pilkada

independen.jpgBahwa dengan keputusan Mahkamah Konstitusi no 5/PUU-V/2007 berikut keluarnya Perubahan Kedua atas UU 32/2004 tanggal 1 April 2008 maka calon perseorangan memiliki hak secara hukum dan politik untuk maju dalam pertarungan pilkada di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...
 
JARNAS Datangi Kantor Gubernur NTB Tuntut Nasionalisasi PT. NNT

posisi.jpgMataram, Berdikari- Untuk yang kesekian kalinya 200-an massa JARNAS  (Jaringan Rakyat untuk Nasionalisasi) yang merupakan gabungan dari LMND, STN, KP-SRMI, AMSI, PAGER DESA, melakukan aksi unjuk rasa ( rabu 16 april 2008) untuk menuntut kepada pemerintah agar segera mengambil alih perusahaan pertambangan yang di miliki oleh perusahaan transnasional imperialis amerika yaitu PT NNT yang di nilai tidak memberikan manfaat sedikit pun terhadap kesejahteraan masyarakat NTB dan Indonesia pada umumnya.

Selengkapnya...
 
Setujukah Anda jika seluruh kontrak pertambangan ditinjau untuk menjamin ketahanan energi nasional?
 

Visitor Online