Wawancara SERBU dengan Surya Tjandra (Direktur Eksekutif TURC)
Sabtu, 20 September 2008
Tahapan Pemilu
2009 telah di mulai. Satu hal yang berbeda dari pemilu 2004 adalah banyaknya
bakal calon anggota legislatif (Caleg) dari kaum pergerakan. Baik aktifis
buruh, tani, kaum miskin kota, mahasiswa maupun para penggiat Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM). Ini merupakan sebuah kemajuan politik yang tentunya dapat menguntungkan
bagi gerakan rakyat kedepannya.
Untuk mengetahui
lebih jauh pandangan-pandangan para aktifis, Tim Redaksi SERBU melakukan
wawancara dengan Surya Chandra, DirekturEksekutif
Trade Union Rights Centre(TURC), sebuah Lembaga
Swadaya Masyarakat yang konsen menangani permasalahan perburuhan. Berikut petikan
wawancaranya:
SERBU : Bagaimana pendapat anda
tentang Pemilu 2009 terkait dengan situasiperburuhan dan perjuangan kaum buruh saat ini? Dan pandangan anda
terhadap pemimpin serikat buruh yang menjadi calon legislatif?
Surya Tjandra (SC): Kalau pemilu dan buruh menurut pasti ada kaitannya, baiklangsung maupun tidak langsung. Pemilu ajang
untuk memilih siapa yang akan mengurusnegara,
siapa yang akan mengambil kebijakan. Kaum buruh harus memperhatikan pemilu. Pemilu
momentum penting diperhatikan, karena akan menentukkan nasib kedepan. Dan syukur-syukur
para aktifis bisa masuk, karena saya tidak akan percaya kepada orang yang tiba-tiba
jadi peduli dengan buruh tanpa ada trek-record pembelaan kepada buruh sebelumnya.
Isu yang penting
digerakan buruh dalam pemilu adalah memperhatikan trek-record para caleg dan
kepeduliannya terhadap buruh. Kepedulian terhadap buruh buat saya tidak bisa datang
tiba-tiba, itu datang dari proses. Dan yang harus kita nilai adalah apakah si caleg
ini punya trek-record itu. Tanpa itu ya, boleh kita curigai, apakah dia benar
sungguh peduli. Bisa jadi dia peduli tapi belum tentu dia mengerti. Artinya
kita butuh orang-orang yang setidaknya sensitif dengan persoalan buruh, untuk sensitif
itu perlu proses. Jadi saya sih cukup optimis ada aktifis buruh yang terlibat
dalam pemilu nanti. Menjadi caleg secara langsung bagi saya merupakan perkembangan
yang menarik dan pantes untuk di dukung, walaupun saya juga mengerti pertimbangan
sebagian kawan-kawan yang memilih Golput, karena bagi saya perlawanan bisa
terjadi dimana-mana dan harus dari mana-mana kita lakukan.
Momentum pemilu
2009 itu semacam titik awal dari sejarah gerakan buruh yang lebih cerah kedepannya.
Bagi saya, mau sukses, mau gagal, kita bisa belajar sesuatu. Selama inikan yang
bergerak itu biasanya individu. Bukan tidak ada aktifis buruh yang terlibat di
politik, banyak di DPR. Awalnya dia serikat buruh tapi dia tidak bisa mewakili
dari buruh karena dia tidak mencari suara dari kaum buruh. Sekarang kawan-kawan
yang maju seperti Dita Sari dari FNPBI atau kawan-kawan dari SPMI, SPN dan beberapa
serikat buruh, secara sistematis mereka memang mencalonkan diri sebagai wakil
dari buruh, menjadi wakil dari organisasi serikat buruh. Bagi saya itu hal yang
berbeda, kalau Dita Sari sendirian akan berbeda dengan Dita Sari dengan FNPBI. Atau
Said Iqbal sendirian dengan Said Iqbal SPMI. Yang membedakan adalah mereka
mengajak juga organisasinya, lepas dari perdebatan internal didalamnya. Bagi
saya sehat saja adanuansa kepentingan
buruh yang di wakili. Jadi, nantinya bisa kita tagih kalau misalnya mereka
tidak melaksanakan apa yang mereka janjikan, kalau secara individu tidak bisa
kita tagih. Saya kira bagus, ada perkembangan yang menarik dan menurut saya
pantas didukung.
SERBU: Ada beberapa serikat
buruh yang menyatakan akan Golput di pemilu 2009, Bagaimana pendapat anda?
SC: Kalau argumen
teman-teman yang Golput, yang saya tangkap, sekarang ini belum ada partai yang sungguh-sungguh memperjuangkan
buruh. Partai akan terhisap dengan sendirinya, langsung terhisap dengan mekanisme
partai yang sudah ada. Jadinya, kalau tidak dihianati, ya dibohongi. Saya kira
itu ada betulnya, tapi tidak sepenuhnya betul. Karena dalam sistem politik
sekarang, ada kemungkinan juga peluang-peluang individu berperan. Dan apa lagi
kalau individu-individu ini didukung oleh kekuatan sosial dibelakangnya,yaitu kekuatan sosial buruh. Jadi saya kira
segeblek-gebleknya Dita Sari sulit untuk dia bilang kalau dia bukan mewakili
kepentingan buruh. Saya kira ini feeling saya, karena trek-record Dita Sari
sudah dikenal banyak orang, dan dia sendiri memang memilihara itu. Artinya Dita
Sari sendiri sadar mengambil posisi itu, dan bagi saya itu jauh lebih baik dari
pada kita biarkan dengan bebas, tidak terikat.
Jadi saya
sendiri berpendapat kedua-duanya punya kebenaran. Baik yang ikut pemilu maupun
yang memilih Golput. Yang penting adalah kita terus berkomunikasi, tidak saling
menjelek-jelekkan dan tidak saling merasa benar sendiri. Karena semua basisnya
adalah kepedulian terhadap buruh dan dalam kontek tertentu saya kira orang
seperti Dita Sari pantas mendapat semacam aprisiasi politik lebih kuat dan
lebih besar, karena pengalamannya bekerja sudah lama. Dan itu bukan berarti
menggadaikan idealismenya, karena saya kira pengalaman nanti, dengan banting
tulang, kawan-kawan akan belajar sesuatu dengan terlibat dalam politik taktis.
Dalam politik taktis betul-betul ada negosiasinya, ada intrik-intriknya, ada bohongnya,
ada semangatnya, yang menurut saya penting harus kita lalui. Kenapa penting di lalui?
Karena saya percaya dengan trek-record kawan-kawan. Saya tidak akan bicara
seperti ini kalau yang mencalonkan diri bukan Dita Sari atau bukan orang yang
saya kenal trek-recordnya. Eksistensinya justru di situ.
SERBU: Harapan dari anda
terhadap pemilu 2009 dan kepada aktivis buruh yang maju menjadi caleg di pemilu
2009 ini?
SC: Harapan saya, mudah-mudahan
kita bisa kumpul nanti di tahun 2010. Baik yang sukses, yang menang, yang kalah,
yang gagal, selama dia masih berkomitmen, mau bekerja, yang masuk dan tidak masuk
legislatif. Saya kira kita harus berkumpul. Harapan saya ada semacam konferensi
buruh. Kita perlu berkumpul, semua elemen kekuatan buruh. Kita cari pemimpin
yang dipercaya untuk memimpin buruh. Harapan saya kepada gerakan non-electoral
juga berkampanye. Jangan diam saja, karena Golput, tidak mau terlibat, bukan
begitu harapan saya, tapi dia terlibat juga. Nanti kita lihat, kalau sekarang
masih agak sulit diukur, kita bisa menilai siapa yang untung kalau Golput,
siapa yang dirugikan kalau kita Golput. Bagi saya penting untuk mengalami proses
itu dengan kesepakatan kita akan bertemu, apapun hasilnya. Saya optimis itu
bisa kita lakukan. Artinya pemilu 2009 itu sebuah awal, bagi saya bukan tujuan
akhir. Itu baru awal untuk persiapan kita lebih jauh, yang penting komitmen tetap
ada. Semangat masih tetap ada dan kemauan untuk terus saling menguatkan, saling
meneguhkan. Saya optimis kedepan pasti akan lebih baik.
SERBU: Bagaimana partisipasi
anda di pemilu 2009 ini?
SC: Kalau kami di TURC
belum menyatakan sikap secara langsung terhadap Pemilu 2009. Yang kami lakukan
adalah melakukan kursus-kursus politik untuk buruh. Jadi kawan-kawan yang
menjadi caleg atau yang anti caleg, kami fasilitasi, diskusi-diskusi untuk
kepentingan kemajuan kaum buruh, selama masih membela buruh, apapun pilihan
perjuangannya, kita fasilitasi. Posisi yang lain bagaimana dan kita hormati itu.
Yang penting bagi saya, perlu kita bina kepercayaan, trust! Di Indonesia
politiknya anti-trust, cendrung tidak percaya. Tidak bisa terbangun satu
gerakan alternatif tanpa kepercayaan. Dan kepercayaan itu juga tidak boleh naif.
Saya kira lebih
sulit loh berjuang masuk kedalam sistem dan dari dalam memperbaiki itu. Dari pada
yang diluar, yang bisa dengan gampang protes tanpa beban. Ada dinamika dan
beban tersendiri yang berbeda, dan itu harus kita lalui. Gerakan buruh di
Indonesia belumada pengalaman sejauh itu.
Tidak juga seperti PRD, PRD masih seperti partainya mahasiswa, idealis, seperti
pemilu 1999, PRD menyerukan memilih PRD atau Golput. Secara politik itu kan
merugikan PRD. Tapi saya kira itu tahapan yang harus kita lalu, dan beruntung
kita telah melalui tahapan itu.
Dan sekarang
tahap berikutnya menurut saya ada perkembangan yang menarik. Jadimodel yang gerakan dulu (ekstra parlemen-red)
tetap ada, dan yang bergerak lebih jauh dengan berkompromi masuk ke dalam sistem
juga ada, Tapi orangnya sama, di situ yang menarik.