Magelang,
Jawa Tengah (09/10/07): Ratusan massa menggelar aksi massa menolak rencana
pemkot Magelang yang akan menggusur Ratusan PKL Jalan Mataram, dekat Pasar
Rejowinangun Kota Magelang, Jateng, Kamis (9/10). Massa yang tergabung dalam
Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) menilai bahwa kebijakan tersebut
meminggirkan ratusan orang yang menggantungkan ekonomi keluarganya di daerah
tersebut.
Sekitar
pkl.04. 30 s/d 10.00, petugas gabungan dari Pemkot Magelang, Pamong Praja dan
Polres Magelang menggelar penertiban, dengan mengambil paksa lapak-lapak milik
pedagang yang kemudian diangkut paksa kekantor Pemkot. Tindakan Pemkot yang
tidak manusiawi ini kontan membuat pedangan marah dan berusaha melakukan
perlawanan. Dengan dukungan aktifis SRMI, para pedagang mencoba mempertahankan
lapak mereka namun dihalalu oleh petugas.
Siang
harinya, 400-an massa SRMI melakukan aksi protes dengan melakukan longmarch
dari Pasar Rejowinangun menuju kantor Pemkot, untuk melakukan dialog. Akan tetapi,
pihak pemkot dan kepolisian justru tidak memperlihatkan itikad baik untuk
bernegosiasi, malah memblokir pintu masuk kantor Pemkot dengan portal. Melihat perilaku
petugas pedagang akhirnya marah dan melakukan aksi duduk dijalan, sebagai symbol
protes. Dengan tiba-tiba, pasukan kepolisian dan Satpol PP dengan membabi buta
menyerang massa aksi yang notabene rata-rata ibu-ibu yang sudah lanjut usia. Akibatnya,
beberapa ibu-ibu terinjak-injak oleh aparat, beberapa orang terjatuh ke
selokan, dan beberapa aktifis dan pedangan yang tertangkap dipukuli,
di-injak-injak, dan diseret oleh pihak kepolisian.
Sekitar
18 orang aktifis SRMI, beberapa orang caleg, dan pedagang, ditangkap oleh
polisi, diantaranya; Agus Priyanto (Esknas LMND dan Caleg DPR-RI dari PBR), Wahyu
Sukma Hadi (Ketua SRMI Jateng) dan Pramilo (Ketua SRMI Kota Magelang), Petrus
Wijanarko, Paulus Rudi Aryanto, Narji, dan Rohadi. Sampai berita ini
diturunkan, masih ada 4 orang aktifis dan pedagang yang ditahan oleh polresta
Magelang.
Masukkan
dukungan dan solidaritas anda ke email ;
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
,
dan selanjutnya disebar kepada pihak terkait. (Rh)
1. Ditulis oleh
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
pd 13-10-2008, - IP: 125.164.119.81
penderitaan rakyat yg sll berulang
Selalu terjadi berulang-ulang penggusuran PKL yang tidak diberikan solusi hanya sekedar asal gusur. Oklah klu memang arahnya untuk ketertiban dan kerapian, namun apa bisa pemerintah memberikan ganti lahan untuk mereka berjualan kembali. Mereka bergantung hidup pada pekerjaannya sebgai PKL. Jangan ngurusi RUU APP, kebijakan ga populis, yang tidak memberikan manfaat buat rakyat. Saya sangat tidak setuju apabila penggusuran dan penertiban PKL dilakukan dengan cara anarkis dan kasar. PKL juga manusia bukan kambing atau sapi yang seenaknya diusir dari tempat mereka cari makan. kambing ma sapi aja diusir kasar ga mau apalgi manusia.
2. Ditulis oleh
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
pd 23-10-2008, - IP: 125.167.114.32
penderitaan rakyat yg sll berulang
terus berjuang kawan. kami di Gorontalo saat juga melakukan hal yang sama. namun bedanya, di Gorontalo walikota Gorontalo, Adhan Dambea Kombongi, dalam melakukan penggusuran tidak ,melibatkan melainkan preman-preman yang menguasai pasar sentral Kota Gorontalo yang digusur oleh mereka. hari minggu, (19/10) kemarin, ketika kami melakukan aksi damai bersama pedagang malah dicoba dihalangi-halangi. anehnya polisi yang pada waktu itu Wakapolres langsung yang turun hanya asyik menonton preman mengejar kami dengan menggunakan parang. terus berjuang kawan. Bangkitlah kaum miskin kota.