Ditengah imperialisme yang berkecamuk, lapangan
kebudayaan merupakan salah satu medan pertempuran yang
tak kalah pentingnya, bahkan sama penting dengan lapangan perjuangan lainnya.
Tak tanggung-tanggung, serangan kebudayaan barat yang berkehendak memperluas
akumulasi profitnya (industri hiburan, entertetaint), serta memandulkan fikiran
rakyat, utamanya kaum muda.
Seni dan politik adalah dua sisi yang tak
terpisahkan. Seni berpolitik adalah bagaimana merespon, mendorong, dan mengubah
realitas agar lebih berpihak kepada keadilan dan demokrasi bagi semua orang.
Sehubungan dengan itu, redaksi Berdikari Online bekerjasama dengan Tim Jaringan
Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER), telah melakukan wawancara terhadap dua grup
band, yang menurut kami bisa mewakili kecenderungan "genre" kaum muda, yaitu
Red Flag dan Efek Rumah Kaca (ERK).
RedFlag merupakan Band Reggae asal lampung. Kelahirannya bukan saja untuk
mendendangkan musik-musik pembebasan, tapi rata-rata personilnya adalah aktifis
jalanan yang terlibat lansung dengan perjuangan massa rakyat;
demonstrasi, pemogokan, rally, dan sebagainya. Red Flag digawangi oleh Dompak
(Depe redflag), sang vokalis yang sudah malang melintang dalam
gerakan rakyat. Dengan musik reggaenya, Red Flag melantungkan lagu-lagu seperti;
Buruh Tani, Fight For Socialism, Tidur Jangan, Darah Juang, dan banyak lagi.
Efek
Rumah Kaca, merupakan grup band muda yang terbentuk tahun 2001
dengan lima orang personil. Awalnya bernama hush.
Pada tahun 2003 personil menyusut menjadi 3 orang ( pianis dan gitaris
mengundurkan diri) dan ganti nama menjadi superego dan ganti lagi menjadi ERK
pada tahun 2003 akhir. Mulai rekaman Agustus 2005. Ikut Kompilasi Paviliun Do
RE Mi dari Paviliun Records dengan lagu melankolia pada Mei 2006. Ikut
Kompilasi Today of Yesterday dari Bad Sector Records dengan lagu Di Udara pada
Juli 2006. Release debut album Self Titled "efek rumah kaca" pada
September 2007. Efek Rumah Kaca memilih untuk melakukan sesuatu: mengangkat tema-tema
yang jarang [atau belum berani?] dikumandangkan band pop. Dengan musik indah. Dan
penulisan lirik yang puitis. Efek Rumah Kaca jelas peka dengan persoalan
sosial, politik, dan ekonomi yang melingkupi bangsa kita saat ini. Silahkan kunjungi
http://www.myspace.com/efekrumahkaca
Berikut
Petikan Wawancara Mereka:
Wawancara dengan
Efek Rumah Kaca:
Redaksi
berdikari-online (BO)
Boleh
dikatakan bahwa Efek rumah kaca merupakan band baru yang terus menanjak dengan
karakteristiknya: kritis, protes sosial, humanisme, dll.
Apakah
Efek Rumah Kaca tidak takut tersingkir dari industri karena tidak memenuhi
selera pasar?
Efek Rumah Kaca
(ERK):
Seperti apa selera
pasar? Ada berapa macam pasar yang dikenal? Kalau disingkirkan
industri, kita tata sendiri industri kita. Itu sudah biasa. Sudah sangat
banyak musisi yang lebih dahulu melakukannya, dan sukses.
BO:
Musik
adalah senjata kebudayaan. Bagaimana ERK menilai kecenderungan band-band anak
muda sekarang dalam konteks perjuangan kebudayaan?
ERK:
Musik adalah apa
pun. Hiburan, sekedar diputar saat kita bekerja, merekam emosi, mewartakan
sesuatu, sebuah gaya, citra, untuk bersiul. Musik bisa jadi apa saja. Dan yang
membuat musik, bisa sesuka hati dan sesuka minat membuatnya. Band-band anak
muda sekarang pun demikian, seperti anak-anak muda di era sebelumnya. Sangat
variatif dalam motif berkarya. Kecendrungan hampir tidak ada. Terlalu majemuk.
Tapi, tentu bisa dikatakan, ada band-band anak muda sekarang yang bermusik
untuk kebudayaan yang mereka yakini. Dan mereka memperjuangkannya.
BO:
Selama
ini, selalu diciptakan garis pemisah antara seni, musik dan politik. Bagaimana
pandangan ERK terhadap politik?
ERK:
Selama ini, juga
selalu ada yang tidak memisahkan seni, musik, dan politik.
Politik,
bagaimanapun, berperan sangat besar pada sebuah bangsa.
BO:
Apa
komentar/tanggapan anda terhadap (fenomena/trend) para pekerja seni yang terjun
ke politik (maju sebagai cagub-cawagub maupun caleg) seperti Rano Karno, Dede
Jusuf, Arnold Swazenegger, Rhoma Irama, Wanda Hamidah, Sys N.S, Primus dan
Pasha Ungu dst)?
ERK:
Cara termudah dan
masuk akal untuk mengansumsikan/ menganalisa bagaimana kredibilitas kerja
mereka di dunia politik, adalah barometer kualitas kerja mereka pada bidang
yang selama ini digeluti dan dikenal publik. Mereka yang karyanya hebat,
menggugah, menginspirasi, dan tulus nampaknya punya kans memiliki kecakapan kerja serupa di bidang politik.
Meski itu belum tentu terjadi.
BO:
Melihat
Indonesia yang terus terpuruk
dalam krisis [penguasaan sumber daya energi & mineral oleh asing, juga
jeratan hutang luar negeri] apa anda optimis dengan kepemimpinan nasional hasil
pemilu 2009 nanti?
ERK:
Ini bukan masalah
optimis atau tidak terhadap hasil pemilu. Yang utama, apa pun yang terjadi,
kita harus tetap "hidup" dan senang, tanpa kontaminasi moral yang
buruk.
BO:
Anda
sendiri berposisi apa di pemilu 2009 nanti?
Golput
- boikot atau masuk menjadi pengurus/struktur salah satu parpol peserta pemilu?
ERK:
Belum tahu. Kami
lebih fokus memikirkan bagaimana album kedua kami kelak bisa lebih baik dari
album pertama, dari segi apa pun.
BO:
Anda
punya basis massa/penggemar [yang diorganizer lewat wadah dsb] tersebar di
penjuru kotakota se Indonesia [bahkan seperti
Iwan Fals & Slank terstruktur dalam OI dan Slankers], nah akan anda arahkan
kemana massa penggemar itu di
momentum pemilku 2009 nanti?
Menyerukan
boikot - golput atau coblos salah satu partai peserta pemilu?
Atau
malah membangun/menyiapkan wadah sendiri untuk pemilu 2014?
ERK:
Mengarahkan mereka
dan diri kami sendiri untuk menjadi manusia yang lebih baik. Itu saja sudah
cukup.
BO:
Adakah
pesan/seruan untuk para pekerja seni budaya terkait momentum pemilu 2009?
[turut
aktif di hiruk pikuknya, cukup sebagai penjaga moral atau bagaimana?]
ERK:
Bekerja saja yang
baik, positif, dan produktif. Kemudian, mencari solusi agar karya-karya
tersebut dapat diperkenalkan seluas mungkin, sesuai kapasitas kemampuan. Tolong
jangan anggap sedang sok berpetuah, kalau tidak ditanya tentang hal ini, tidak
diwawancara Tejo Priyono, kami pun sungkan mengatakannya. Kami band baru, masih
"seumur jagung". Tapi, ini yang kami tahu, yang coba kami kerjakan.
Walau bisa saja kami gagal mengerjakannya.
Wawancara
Dengan Dompak Red Flag
Berdikari Online
(BO):
Musik adalah senjata
kebudayaan. Bagaimana anda menilai kecenderungan band-band anak muda sekarang
dalam konteks perjuangan kebudayaan?
Dompak
Redflag (Depe Redflag)
Saya
sepakat jika musik dikatakan sebagai senjata kebudayaan. Kecenderungan band
band anak muda sekarang lebih kepada sekedar trend kekinian, tanpa perspektif
yang jelas dan hampir sama sekali tidak ada unsur ideologisnya. sehingga jika
dihubungkan dengan konteks perjuangan kebudayaan ya.. gak lebih dari sekelompok
pemusik tokh..tanpa ada arah mau dibawa kemana garis bermusiknya..
BO:
Selama ini, selalu
di ciptakan garis pemisah antara seni, musik dan politik. Bagaimana pandangan
anda terhadap politik?
Depe
Red Flag
Dari
awal saya dan teman2x REDFLAG menyepakati bahwa musik adalah alternatif media
kampanye atas semua issue yang mau diangkat. Artinya secara sadar atau tidak
sadar redflag sudah masuk kedalam pertarungan seni dalam hal ini garis
berkeseniannya. Justru kita tidak sepakat kalau ada garis pemisah antara seni,
musik, dan politik. justru REDFLAG timbul dari situasi politik yang ada.
BO:
Apa
komentar/tanggapan anda terhadap (fenomena/trend) para pekerja seni yang terjun
ke politik (maju sebagai cagub-cawagub maupun caleg) seperti Rano Karno, Dede Jusuf, Arnold Swazenegger, Rhoma Irama, Wanda Hamidah, Sys N.S, Primus dan Pasha Ungu dst)?
Depe Red Flag
Menurut saya, yaa.. sah-sah saja.. mereka merasa punya
modal sebagai publik figur, ya kenapa nggak untuk mencoba terjun ke dunia politik.
nah.. masalahnya adalah mengenai apa yang mereka tawarkan sebagai salah satu
calon dan berpihak gak mereka terhadap rakyat miskin di indonesia...
BO:
Melihat Indonesia yang terus terpuruk dalam krisis [penguasaan sumber
daya energi & mineral oleh asing, juga jeratan hutang luar negeri] apa anda
optimis dengan kepemimpinan nasional hasil pemilu 2009 nanti?
Depe Red Flag
Saya optimis saja.. dengan catatan pemimpinnya berpihak
terhadap rakyat bukan terhadap kepentingan modal asing seperti yang terjadi
sekarang ini (SBY-JK)
BO:
Anda sendiri
berposisi apa di pemilu 2009 nanti? Golput - boikot atau masuk menjadi pengurus/struktur
salah satu parpol peserta pemilu?
Depe
Red Flag
Sekarang
masanya sudah berbeda.. untuk merubah suatu sistem ya harus masuk di
dalam sistem itu.. gak zaman lagi deh mau gaya-gaya bawah tanah.. sekarang era
keterbukaan ( liberalisasi politik ) orang bebas mau menyuarakan apa saja. dan
posisi kita ya jelas, kita sepakat dengan PEMILU bahkan terlibat di salah satu
parpol..tetapi tidak melupakan juga perjuangan ekstra parlemen yang nantinya
mengontrol kerja teman2x yang nantinya duduk di parlemen.
BO:
Anda punya basis
massa/penggemar [yang diorganizer lewat wadah dsb] tersebar di penjuru kotakota se Indonesia [bahkan seperti Iwan Fals
& Slank terstruktur dalam OI dan Slankers], nah akan anda arahkan kemana massa penggemar itu di momentum pemilku 2009 nanti? Menyerukan
boikot - golput atau coblos salah satu partai peserta pemilu?Atau malah
membangun/menyiapkan wadah sendiri untuk pemilu 2014?
Depe
Red Flag
Pastinya
akan kita arahkan ke salah satu parpol yang kita dukung dong.. tetapi dengan
penjelasan yang jelas kepada massa agar tidak gamang nantinya dan tidak
menimbulkan ketidak jelasan atas apa yang kita lakukan.
BO:
Adakah pesan/seruan
untuk para pekerja seni budaya terkait momentum
pemilu 2009? [turut
aktif di hiruk pikuknya, cukup sebagai penjaga moral atau bagaimana?]
Depe Red Flag
Pesan kita cuma satu.. saatnya musisi bicara..moral tidak
dapat merubah keadaan. yang dapat merubah keadaan adalah kerja keras dan usaha
kita sebagai musisi untuk selalu mengingatkan rakyat agar tidak salah memilih
partai yang hanya mengiming-iming mimpi dan janji kosong.