Statemen Politik DPP Papernas Menyikapi Krisis Finansial
Senin, 27 Oktober 2008

posisi.jpgDemisionerkan Tim Ekonomi (Neoliberal) Kabinet SBY-JK!

Segera Bentuk Komite Penyelamat Ekonomi Bangsa!

Selamatkan Hajat Hidup Rakyat, Bukannya Monopoli Finansial Asing!


Krisis yang terjadi saat ini tidak bisa diremehkan. Apalagi dampaknya sudah semakin terasa oleh rakyat Indonesia. Praktek serakah kapitalis dan spekulasi liar, yang direstui oleh kebijakan menuhankan pasar (neoliberalisme) di Wall Street, New York, AS, telah menyebabkan krisis finansial yang mengguncang ekonomi global serta mempertaruhkan hajat hidup manusia di berbagai penjuru dunia. Terutama, di negeri-negeri Selatan. Dampaknya kini semakin terasa di Indonesia, baik dalam bidang riil maupun finansial.

Sejauh ini, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa Barat telah coba mengatasi imbas krisis dahsyat ini dengan mengucurkan uang yang berasal dari pajak warganya. Uang warga negara/rakyat tersebut dikucurkan untuk membayar utang-utang yang disebabkan oleh spekulasi dan keserakahan para bankir. Penting bagi rakyat Indonesia untuk mencegah hal serupa (transfer kekayaan dari jutaan rakyat miskin ke tangan segelintir bankir berpunya) terjadi di Indonesia; dan kalau pun langkah semacam itu harus ditempuh, maka institusi-insititusi keuangan yang ditolong negara tersebut, harus diambil-alih ke tangan negara, dan digunakan sebesar-besarnya untuk menyelamatkan hajat hidup rakyat dan perekonomian nasional.

Respon pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono terhadap krisis tidak mencerminkan hal tersebut. Pemerintahan SBY sebatas mempersiapkan infrastruktur legal-formal, dalam bentuk Perpu JPSK, yang sekedar bertujuan meningkatkan kepercayaan masyarakat, melancarkan aliran likuiditas, dan mengelola penyaluran bantuan likuiditas bila diperlukan nanti.

 

Langkah pemerintahan SBY-JK ini bukan saja sangat tidak memadai, tapi juga berpotensi menjerumuskan perekonomian bangsa ke dalam arus keserakahan kapitalisme-neoliberal yang sedang mencari talangan dana dari rakyat, bukan saja di AS, tapi di seluruh negeri. Kami katakan tidak memadai karena (1) Pemerintahan neoliberal SBY-JK beserta jajaran kabinetnya tidak mendirikan pertahanan ekonomi nasional terhadap aksi-aksi spekulasi finansial. Seperti rongrongan yang terjadi atas bursa efek (yang menurut laporan disebabkan oleh penarikan dana oleh investor asing, terutama hedge funds AS, yang membutuhkan kas) saat ini, sangat mungkin akan kembali/terus terjadi. (2) Tidak terdapat upaya untuk menstabilkan perekonomian lewat kebijakan mata uang terkontrol atau pengenaan pajak atas kegiatan finansial, yang bisa menjadi pelindung utama dari aksi spekulasi. Lebih-lebih lagi, (3) sumber pendanaan diambil dari penerbitan surat utang dalam APBN, dengan demikian pembayaran utang-utang institusi keuangan yang dibantu BI dibebankan seluruhnya ke pundak rakyat Indonesia. Yang semakin memprihatinkan adalah, bahwa langkah ini sebenarnya merupakan pembiayaan atau pengaliran likuiditas untuk membiayai utang-utang Amerika Serikat. Sementara bila menggunakan dana IMF (pemerintah telah meminjam standby loan sebesar 5 Milyar USD dari IMF), krisis moneter 19998 telah memberikan pelajarannya.

Krisis ini berawal dari pemiskinan rakyat pekerja di AS, yang dibebani oleh berbagai macam kredit konsumsi dan kini terbukti tidak mampu melunasinya. Ini menyebabkan rantai kegagalan pembayaran menjalar ke seluruh dunia, melebihi batas-batas sektor finansial. Dengan menurunnya pangsa ekspor luar negeri, ditambah semakin seretnya likuiditas dan aliran kredit, maka bisa dipastikan bahwa industri dan usaha nasional akan terpukul, dan, selanjutnya menyebabkan pengangguran dan pemiskinan yang lebih luas. Pada ujungnya, ini pun akan menciptakan krisis solvabilitas (kemampuan perusahaan membayar kredit) di Indonesia, dengan kata lain, krisis ekonomi akan lebih mendalam.

Perlu secepatnya tindakan darurat pencegahan, berupa regulasi finansial untuk mencegah keluarnya likuiditas dan mempertahankan perekonomian nasional dari terpaan krisis finansial global. Dan kemudian, untuk mengeluarkan diri dari jeratan krisis finansial global ini, perlu diambil langkah-langkah penuntasan, yang tujuan fundamentalnya adalah meningkatkan kapasitas pasar domestik dengan cara peningkatan pembelanjaan sosial (pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dll)-serta/yang akan mendorong produktivitas.

Namun, kami amat sangat ragu, tindakan tersebut akan dijalankan oleh pemerintahan SBY-JK beserta jajarannya. Sudah cukup empat tahun pemerintahan ini menjalankan kebijakan neoliberal yang menyengsarakan rakyat, dan membuat nasib bangsa ini semakin tidak menentu. Karena itu, kami menyerukan pembentukan sebuah Komite Penyelamat Ekonomi Bangsa, yang terdiri dari ekonom, politikus, dan cendekiaan kritis, yang menggunakan paradigma non-neoliberal dalam menghadapi krisis sekarang dan sebelumnya. Komite Penyelamat Ekonomi Bangsa dengan sendirinya mendemisionerkan tim ekonomi kabinet SBY-JK sekarang (Sri Mulayani, Cs).


DPP PAPERNAS mendesak fraksi-fraksi atau wakil Partai di DPR yang selama ini "bersuara kritis" terhadap agenda neoliberal (PDIP, PKB, PAN, PBR, dll) untuk membuktikan keberpihakan mereka terhadap rakyat, dan bukan terhadap korporasi finansial asing. Tidak sepantasnya wakil rakyat hanya diam atau kebingungan, lantas mengikuti agenda penyelesaian krisis ala neoliberal yang akan semakin menjerumuskan bangsa Indonesia.

 

Wujud konkret tindakan pencegahan untuk mempertahankan ekonomi nasional, yang akan dijalankan oleh Komite Penyelamat Ekonomi Bangsa dimaksud adalah:

 

  1. Dalam hal bantuan likuiditas maupun rekapitalisasi, pemerintah harus mencari pendanaan di luar dana publik, seperti, dari aset bank atau pajak terhadap perusahaan-perusahaan yang terkaya. Lebih dari itu pembukuannya harus dibuka ke publik Indonesia dan fungsinya harus diarahkan untuk kepentingan perekonomian nasional.
  2. Dalam kasus Bank Indover, BI perlu menyerahkan kontrol kepada pemerintah atau bank BUMN, untuk digunakan bagi kepentingan ekspor Indonesia dan dengan membuka pembukuannya ke publik.
  3. Ratifikasi kontrol mata uang asing.
  4. Pengenaan pajak terhadap transaksi finansial dan valuta asing, untuk meminimalisir aksi spekulasi.
  5. Pembekuan sementara cabang bank asing, karena dalam krisis mereka dapat berperan sebagai ‘spons' yang menyerap likuiditas yang hendak dilarikan ke luar negeri.
  6. Pelarangan perdagangan produk-produk keuangan yang spekulatif (seperti Credit Default Swaps, dsb).
  7. Restrukturisasi perbankan dengan cara menintervensi atau bahkan menasionalisasi bank-bank yang kesulitan dana.
  8. Menggunakan institusi keuangan (bank) yang baru dikuasai/dinasionalisasi negara, untuk memberikan kredit yang bertanggungjawab dan secara umum untuk membantu kehidupan rakyat.
  9. Menggunakan BUMN yang di-buyback untuk meringankan biaya hidup rakyat (misalnya; dalam kasus PT. Bumi Resources, penurunan tarif listrik, dsb).
  10. Tunda pembayaran utang luar negeri publik untuk selamatkan likuiditas di dalam negeri.

 

Sementara wujud kongkret langkah penuntasan, atau langkah banting setir menuju ekonomi berdikari/mandiri, agar tidak lagi tak berdaya menghadapi krisis ekonomi seperti ini adalah:

  1. Turunkan harga BBM, baik untuk industri maupun non industri.
  2. Bantuan kredit dan teknologi buat petani
  3. Naikkan upah, hentikan praktik sistem kerja outsourcing, dan jamin kebebasan serikat buruh; kebijakan di sektor perburuhan ini dibarengi dibarengi dengan insentif bagi industri beroritensi ekspor yang terkena dampak krisis.
  4. Akses pendidikan dan kesehatan dipersiapkan menuju gratis/cuma-cuma bagi setiap warga negara RI.
  5. Memperbesar alokasi bantuan kredit untuk pengusaha kecil-menengah
  6. Peningkatan tarif utk melindungi pasar domestik namun tetap kompetitis secara internasional
  7. Renegosiasi semua kontrak pertambangan (agar kedudukan hukum aksi nasionalisasi lebih kuat)
  8. Picu industrialisasi dengan proyek pembangunan sosial dan infrastruktur yang dapat menopang industri
  9. Terapkan pajak progresif
  10. Bangun kerjasama regional dan selatan utk embuka pasar dan kerjasama
  11. Mencabut/revisi UU pro-neolib: UU BI (kembalikan BI ke kontrol pemerintah), UU Migas, UU PMA, UU TK, dsb.

 

Demikian pernyataan ini kami buat sebagai sikap politik PAPERNAS menyikapi krisis finansial global saat ini.

 

Cukup sudah jadi Bangsa Kuli, Bangkit jadi Bangsa Mandiri!

 

Hapus utang luar negeri!

Nasionalisasi Industri Pertambangan!

Bangun Industri Nasional untuk kesejahteraan Rakyat!

 

Sabtu, 25 Oktober 2008

 

Dewan Pimpinan Pusat

Partai Persatuan Pembebasan Nasional

 

 

AGUS JABO PRIYONO                                               HARRIS BA. SITORUS

Ketua Umum                                                                            Sekretaris Jenderal

 


Quote this article on your site | Dilihat: 275 | Cetak | E-mail

Isi Komentar
RSS comments

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code
Saya Tidak Mau Ada Komentar Lain Masuk Email

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
JSN ImageShow - Joomla 1.5 extension (component, module) by JoomlaShine.com

Bravo ! PAPERNAS

Solidaritas Terhadap Petani Suluk Bongkal Datangi Komnas HAM dan Istana Negara

Jakarta-berdikari online (30/12/2008): puluhan organisasi, seperti Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), Sukarelawan Perjuangan Rakyat untuk Pembebasan Tanah Air (SPARTAN), FNPBI, SHI, Walhi, KPA, Ikatan Pelajar Mahasiswa Bengkalis (IPEMALIS) Jakarta, KOMPAK UIN, FMN, LS-ADI Jakarta, PB-HMI, KIARA, IGJ, dan Aliansi Mahasiswa Jakartamelakukan aksi ke kantor Komnas Ham, dan kemudian melanjutkan aksinya ke depan istana negara.

Selengkapnya...
 
Petani Suluk Bongkal MenemuI Gusdur

Jakarta-berdikari online (28/12/08): di sela-sela acara orasi catatan akhir tahun (28/12) di Hotel Santika, di Jakarta, Gus Dur menyempatkan untuk menerima perwakilan petani suluk bongkal, Bengkalis, Riau, didampingi istri dan anaknya. Pada kesempatan tersebut, Gusdur memberikan kesempatan kepada petani untuk berdialog dan menyampaikan kronologis aksi kekerasan yang dilakukan oleh PT. Arara Abadi dan Polda Riau (18/12/08). Perwakilan petani yang terdiri dari Pak Khalifah, Tengku Muthalib, Pak Pongah, dan Rasyidin lansung menyampaikan latar belakang kasus dan berbagai bentuk aksi kekerasan yang dilakukan polisi.

Selengkapnya...
 
Lagi, Polda dan Kadishut Riau Memanipulasi Fakta

Jakarta-Berdikari online (27/12/08): Kasus kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian Polda Riau terus mendapat kecaman dari berbagai pihak. Dukungan internasional dan nasional terus mengalir dalam bentuk nota protes, maupun dukungan solidaritas lansung. Berdikari online sendiri sudah mendapat pernyataan pers dari Amnesty Internasional terkait brutalisme kepolisian di Bengkalis, Riau. Terkait hal tersebut, beberapa pihak yang terkait dalam kejahatan kemanusiaan ini melakukan aksi bela diri, termasuk melakukan manipulasi fakta dan memaksakan pengakuan terhadap korban di bawah intimidasi. Seperti kita ketahui, sebelumnya pun Polda Riau telah menyogok enam organisasi untuk menggelar konferensi pers dukungan terhadap tindakan polda Riau.

Selengkapnya...
 
Pernyataan Amnesty International Mengenai Pembakaran Rumah Rakyat Oleh Polisi

Indonesia: Investigate forcible destruction of homes by the police in Riau

 

 

23 December 2008

Indonesian authorities should immediately investigate the forcible destruction of an estimated 300 homes in the village of Suluk Bongka on 18 December, Amnesty International said today. Local sources told Amnesty International that two children died during the confrontation and that nearly 400 villagers are still homeless and living in a nearby forest. Fifty eight people remain in police custody.

 

"Hundreds of people are now living in the forest, their homes destroyed, and two families are grieving the loss of their children. The Indonesian government should immediately investigate why and how this happened, and specifically examine the role of local law enforcement officials in this incident," said Josef Benedict, Amnesty International's Indonesia campaigner.

 

Selengkapnya...
 
POLDA Riau Coba Alihkan Masalah, enam organisasi bayaran disogok

Jakarta-berdikari online (25/12-/08): Berita aksi kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian dari Polda Riau bersama dengan PT. Arara Abadi kini sudah menyebar kemana-mana, bahkan hingga mendapat solidaritas internasional (silahkan klik disini). Dalam waktu dekat, pihak Komnas Ham akan melakukan investigasi lapangan guna mencari bukti dan fakta pelanggaran HAM berat, termasuk kemungkinan telah terjadinya genosida. Selain itu, pihak korban dan tim advokasi petani Suluk Bongkal sudah mendatangi mabes Polri, serta menyerahkan begitu banyak bukti (dokumen, foto, dan video) mengenai aksi brutal Polda Riau. Dalam beberapa hari kedepan, setidaknya paska libur, pihak korban dan tim advokasi juga akan mengunjungi komisi III DPR untuk mengadukan kejadian tersebut.

Selengkapnya...
 
Pernyataan Sikap TIM ADVOKASI WARGA SULUK BONGKAL, BENGKALIS, RIAU

posisi.jpgTIM ADVOKASI WARGA SULUK BONGKAL

Sukarelawan Perjuangan Rakyat untuk Pembebasan Tanah Air (SPARTAN), Syarikat Hijau Indonesia (SHI), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), KONTRAS, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), Serikat Tani Riau (STR), Serikat Pengacara Rakyat (SPR), Kantor Bantuan Hukum (KBH) Riau, LBH-YPBHI Pekambaru, Jaringan Rakyat Penyelamat Hutan Riau (JIKALAHARI), Kelompok Advokasi Riau, Ikatan Pelajar Mahasiswa Kec. Bengkalis (INPERALIS) Pekambaru, Serikat Mahasiswa Riau (SEMAR)

Nomor : 04/B/TAWSB/Des-2008

Hal       : Pernyataan Sikap

Lamp    : 1 bundel kronologis

 

Tangkap, adili, dan Hukum Seberat-beratnya Seluruh Personil POLRI yang terlibat Membakar Rumah-rumah Rakyat, Copot Kapolda Riau
Bekukan Aktifitas PT. Arara Abadi, Kembalikan Tanah Rakyat !

 

Kamis(10/12/08) dua buah helicopter berputar-putar di udara sambil menjatuhkan bom napalm, sebuah bom yang dipergunakan AS untuk membumi hanguskan desa-desa pada saat perang Vietnam, yang diarahkan kepada pemukiman warga Suluk Bongkal, Desa Beringin, Kec. Pinggir, Bengkalis, Riau. Warga berhamburan, berlarian, dikejar ketakutan dan rasa cemas. Dalam waktu singkat, 700 rumah warga hangus terbakar, belum lagi perabot, alat-alat-alat produksi, dan lahan pertanian yang sebentar lagi akan panen, juga turut hancur. Bukan itu saja, 700 aparat Polda Riau, ditambah Pam Swakarsa dikerahkan untuk menggempur warga yang sedang ketakutan. Polisi melepaskan tembakan yang bukan saja untuk menakut-nakuti warga, tetapi juga diarahkan kepada sejumlah warga. Akibatnya, dua warga mengalami luka tembak. Ironisnya, seorang bocah bernama Fitri (2th), yang karena ketakutan, akhirnya tewas terperosok di tanah dan seorang lagi bernama Bunga (2 bulan) ikut terpanggan api di ayunannya. Dalam kejadian ini, sebanyak 200 warga ditahan di polsek Mandau, dan 400-an warga yang bersembunyi di hutan Kampung dalam, kini dikepung layaknya pemberontak oleh ratusan polisi

 

 

Selengkapnya...
 
Warga Suluk Bongkal dan SPARTAN Datangi Mabes POLRI

Jakarta-berdikari-online(23/12/08): solidaritas terhadap korban kekerasan di Bengkalis terus berlansung. Selain disampaikan lewat pernyataan pers sejumlah organisasi-organisasi gerakan, juga dengan dukungan aksi massa. Hari ini (23/12), ratusan massa dari Sukarelawan Perjuangan Rakyat untuk Pembebasan Tanah Air (SPARTAN) menggelar aksi massa ke Mabes POLRI. Di tengah-tengah massa aksi, juga hadir beberapa perwakilan warga Suluk Bongkal, yaitu Pongah, Khalifah Ismail, Tengku Abdul Muthalib, dan Pak Rasyidin, yang merupakan perwakilan petani yang sempat meloloskan diri.

Selengkapnya...
 
Lagi, Demo Menolak UU BHP di refresi Polisi

posisi.jpgJogjakarta- berdikari online (20/12/08): Pengesahan UU BHP terus menuai protes mahasiswa. Di Jogjakarta, 50-an mahasiswa menggelar aksi di pertigaan lampu merah UIN. Massa menuntut agar UU BHP segera dicabut oleh DPR, karena perundangan tersebut akan mengarahkan pendidikan pada mekanisme pasar. Dalam aksinya, selain melakukan orasi-orasi politik secara bergantian, massa mahasiswa juga membakar ban bekas sebagai symbol protes mereka. Baru 30 menit aksi berlansung, tiba-tiba satu kompi Polisi lansung berupaya membubarkan aksi. Polisi berupaya membubarkan aksi ini, dengan mendorong para massa aksi. Akibatnya, beberapa aktifis mahasiswa terjatuh, sedangkan beberapa yang lainnya bergerak mundur ke arah kampus UIN. Dua massa aksi yaitu mahasiswi dari APMD dan Uut (anggota LMND DIY Kampus UST) sempat diinjak dan dipukul sampai pinsan. Massa yang mundur ke kampus UIN terus dikejar oleh aparat kepolisian. Mahasiswa kemudian membalas pengejaran ini dengan lemparan batu. Aksi lempar batu dan kayu pun terjadi selama puluhan menit.

Selengkapnya...
 
Aksi Kekerasan Masih Berlanjut, Polisi Tambah Kekuatan

Bengkalis, Riau-Berdikari online (20/12/08): setelah memborbardir dusun Suluk Bongkal dengan bom napalm, pihak kepolisian POLDA Riau kembali menambah kekuatan sebanyak 8 bus pasukan, 8 truk pasukan dalmas, tiga unit alat berat (bulldozer), ditambah beberapa ekor anjing pelacak. Berdasarkan pantauan berdikari online di lapangan, Polisi masih berupaya untuk mengejar sejumlah warga yang bersembunyi di lapangan, termasuk mengejar beberapa orang aktifis dari Serikat Tani Riau, organisasi petani yang berdiri membela hak-hak kaum tani.

 

Menurut reporter berdikari online, setiap radius 10 meter dijaga oleh polisi, sedangkan masyarakat dilarang memasuki lokasi, termasuk mengevakuasi jenasah anak kecil bernama Fitri yang tewas kemarin (18/12). Polisi tidak segan-segan memukuli, menangkapi, dan menganiaya warga yang berada di sekitar lokasi lahan warga. Akibatnya, 3 warga dianiaya oleh aparat kepolisian. Seorang ibu hamil mengalami pendarahan, tidak bisa dievakuasi dan dibawa  ke rumah sakit karena dihalang-halangi oleh pihak kepolisian.

Selengkapnya...
 
Berdikari Online berfihak pada Petani Suluk Bongkal

Kami dari redaksi berdikari online bersimpati atas perlakuan yang diterima petani di dusun Suluk Bongkal. Apa yang dilakukan pihak kepolisian Riau merupakan bentuk kekerasan berat yang merendahkan martabat manusia, serta menginjak-injak konstitusi dan prinsip-prinsip Negara hukum. Penderitaan yang dialami oleh rakyat adalah penderitaan kami juga, dan penderitaan untuk semuanya.

 

Ketika media massa dan pers mainstream tidak mau mengangkat dan memberitakan hal ini, maka atas jurnalisme kerakyatan, kami akan terus menyampaikan berita-berita mengenai penindasan rakyat dimanapun, termasuk di dusun Suluk Bongkal, Bengkalis, Riau.

 

Kami menyayangkan ketidakhadiran media (TV, radio, dan cetak) dalam memberitakan kejadian tersebut, padahal ratusan hingga ribuan orang harus bergelut dalam bahaya menghadapi aksi kekerasan yang dilakukan oleh apparatus Negara. Ingatlah Pesan Bung Karno, pada saat upgrading wartawan PWI, 11 januari 1966; "Para wartawan agar berhati-hati dalam melakukan tugasnya. Saya tegaskan agar para wartawan Indonesia mengadakan instrospeksi dalam menjalankan tugasmya. Adakanlah penilaian yang obyektif terhadap tugas-tugas kewartawanan dalam rangka mengabdikan diri kepada masyarakat dan revolusi . Untuk ini, para wartawan hendaknya banyak membaca dan menambah wawasan pengetahuan sehingga akan dapat menguasai berbagai persoalan dalam rangka menunaikan tugas sebaik-baiknya"

 
Kronologis Pengusiran paksa Petani Suluk Bongkal dengan Membom 700 Rumah Rakyat Menggunakan Napalm
posisi.jpgKamis, 18 Desember 2008  
 
"Ini Perintah Atasan"
(Pernyataan Dir. Reskrim Polda Riau Kombes Pol. Alex Mandalika dilokasi saat hendak melakukan pembakaran rumah masyarakat
Dusun Suluk Bongkal, 18 Desember 2008)
 
Pada tanggal 18 Desember 2008 tepatnya pukul 10.00 WIB pasukan Brimob Polda Riau beserta 500-an pasukan Samapta serta pasukan kepolisian dari Polres Bengkalis yang dipimpin langsung oleh Dir. Reskrim Polda Riau Kombes. Alex Mandalika mendatangi Dusun Suluk Bongkal untuk melakukan pengusiran terhadap warga yang berdiam di Dusun tersebut karena dianggap telah melakukan penyerebotan terhadap areal HPHTI PT. Arara Abadi. Pasukan tersebut dilengkapi dengan persenjataan (pentungan dan senjata api) serta water cannon. Kedatangan pasukan tersebut telah diketahui kabarnya oleh warga Dusun sejak sehari sebelumnya sehingga membuat warga Dusun seluruhnya melakukan mobilisasi ke jalan masuk Dusun untuk mempertahankan kampung. Beberapa saat kemudian masyarakat coba untuk melakukan perundingan dengan kepolisian yang dipimpin oleh Kepala Dusun Suluk Bongkal Khalifah Ismail, Ketua RW 03 Rasyidin, Tokoh masyarakat Suluk Bongkal Pongah, Loceng dan beberapa tokoh masyarakat lainnya yang didampingi oleh Ketua Umum Serikat Tani Riau Riza Zuhelmy. Perundingan dilakukan dengan pihak kepolisian yang langsung dipimpin oleh Dir. Reskrim Polda Riau yang didampingi aparat kepolisian lainnya. Awalnya warga menanyakan tentang operasi yang dilakukan dan surat perintah, namun pihak kepolisian hanya menjawab ini perintah atasan. Hal yang sangat aneh operasi yang menggunakan banyak perlengkapan dan dipimpin langsung oleh perwira polri ini tidak ada pemberitahuan resmi sebelumnya, tidak ada surat perintah resmi pelaksanaan penggusuran serta tidak ada keputusan pengadilan untuk melakukan eksekusi ini. Warga meminta kepada pihak kepolisian untuk tidak melakukan tindakan represif karena Dusun tersebut syah merupakan sebuah perkampungan berdasarkan peta administrasi wilayah Dusun Suluk Bongkal yang ditandatangani oleh Bupati Bengkalis pada 12 Maret 2007 seluas 4.856 ha (tertuang dalam lembaran Pemerintahan Kabupaten Bengkalis no. 0817-22 0817-31.0618-54 0616 63).


 
Selengkapnya...
 
Statemen EN-LMND Mengutuk Pembakaran 700 rumah Warga Oleh POLRI di Bengkalis, Riau

Nomor : 03/B/EN-LMND/Des-2008

Hal       : Press Release

Lamp    : -

 

Bukan Bom Napalm, Tapi Modal, teknologi, dan Sarana Produksi Bagi petani

Tangkap, adili, dan Hukum Seberat-beratnya Seluruh Personil POLRI yang terlibat Membakar Rumah-rumah Rakyat

Bekukan Aktifitas PT. Arara Abadi, Kembalikan Tanah Rakyat !

 

Hari kamis (18/12/08), 2 helikopter berputar-putar sambil menjatuhkan bom napalm, sebuah jenis bom yang dijatuhkan pasukan AS untuk membumihanguskan Vietnam, yang diarahkan kepada pemukiman penduduk Dusun Solok Bongkal, Desa Beringin, Kec. Pinggir, Bengkalis, Riau. Dalam sekejap, 700-an rumah warga hangus terbakar, belum lagi tanah pertanian, alat produksi, dan perabotan yang tak sempat diselamatkan. Bukan itu, 1000 preman plus 500an aparat bersenjata lengkap dikerahkan untuk menggempur warga yang ketakutan. Polisi melepaskan tembakan membabi buta yang bukan saja untuk menakut-nakuti warga, tetapi juga diarahkan kepada warga. Akibatnya, 2 orang warga terkena tembakan. Ironisnya, seorang bocah bernama Fitri (2th), yang karena ketakutan, akhirnya tewas terperosok di tanah. Dalam kejadian ini, sebanyak 200 warga ditahan di polsek Mandau, dan 400-an warga yang bersembunyi di hutan Kampung dalam,  kini dikepung layaknya pemberontak oleh ratusan polisi ditambah preman. Ternyata, hasil kerjasama POLRI dengan kemiliteran AS adalah teknik menggukan bom napalm untuk membumi hanguskan rumah-rumah rakyat.

Selengkapnya...
 
Tanpa Putusan Pengadilan, pemukiman warga digusur dan ratusan rumah warga dibakar

Pekanbaru-Berdikari online (18/12/08). Sudah beratus-ratus tahun masyarakat Suluk Bongkal mendiami wilayahnya. Tiba-tiba, tanpa diduga oleh masyarakat, ribuan orang berpakaian preman yang dibantu polisi menggusur pemukiman mereka. Bukan itu saja, ratusan rumah warga dibakar, tanah pertanian dan alat-alat produksi dimusnakan. Akibat aksi kekerasan ini, 30 orang warga ditangkap, dan seorang diantaranya adalah pengurus KPP-STR, sedangkan seorang warga bernama Fitri (2th) tewas karena ketakutan. Aksi penggusuran ini dipimpin oleh Dir Reskrim Polda Riau, Sdr Alex Mandalika.

Selengkapnya...
 
Pernyataan Sikap DPP PAPERNAS Mengecam Aksi Pembakaran rumah petani Suluk Bongkal oleh pihak PT. AA

PERNYATAAN SIKAP

006/DPP-Papernas/B-II/September/2008

 

CABUT SK MENTERI KEHUTANAN Nomor 743/Kpts-II/1996 DAN BEKUKAN AKTIFITAS PERUSAHAAN PT. ARARA ABADI

USUT TUNTAS, TANGKAP, DAN ADILI SEBERAT-BERATNYA PELAKU PEMBAKARAN RATUSAN RUMAH RAKYAT DI DUSUN SULUK BONGKAL

 

Hari ini(18/12/08), kurang lebih 1000-an orang preman suruhan yang dibayar oleh pihak PT. ARARA ABADI dan dipimpin langsung oleh pihak kepolisian, yaitu direskrim Polda Riau (Alex Mandalika), melakukan penyerangan, penghancuran dan pembakaran rumah-rumah secara membabi buta terhadap masyarakat dusun Suluk Bongkal KM 42-47 desa Beringing kec. Pinggir, Kab. Bengkalis. Penyerangan ini dilakukan dengan dalih bahwa masyarakat yang ada di dusun tersebut adalah masyarakat pendatang, dan untuk itu harus di singkirkan dari daerah tersebut, selain itu masyarakat di dusun tersebut telah dituduh secara sepihak oleh PT.ARARA ABADI bahwa masyarakat tersebut telah melakukan perambahan hutan milik Negara.

Selengkapnya...
 
Tolak BHP, Aksi Mahasiswa Unhas Dibubarkan Polisi

Makasar, Berdikari Online (16/12/08) : Ratusan mahasiswa yang tergabungdalam Aliansi Mahasiswa Tolak Badan Hukum Pendidikan (ALARAM) menggelar aksinya di depan kampus Unhas. Awalnya aksi ini berlansung damai, namun aksi berubah menjadi panas ketika seorang peserta aksi dipukul oleh anggota Satpam Kampus. Kontan saja mahasiswa yang sedang menggelar orasi depan kampus marah dan memblokir satu jalur badan jalan depan kampus. Setelah situasi kembali tenang, mahasiswa kembali melanjutkan aksinya, sambil menggelar orasi di pinggir jalan.

Selengkapnya...
 
Pernyataan EN-LMND mengecam Tindakan Kekerasan Polisi Terhadap Aksi Mahasiswa Menolak RUU BHP

Nomor : 02/B/EN-LMND/Des-2008

Hal       : Pernyataan Sikap

Lamp    : 1 bundel kronologis

 

Tolak Pengesahan RUU BHP; Hentikan Program Swastanisasi Kampus;

Jamin Pendidikan Gratis dan Berkualitas bagi Seluruh Rakyat

 

Pada hari ini, ratusan mahasiswa Unhas, Makassar, yang menggelar aksi menolak RUU BHP dan komersialisasi pendidikan direfresi oleh pihak kepolisian. Kejadian ini terjadi, tatkala ratusan mahasiswa Unhas yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Tolak Badan Hukum Pendidikan (ALARAM) menggelar aksinya di depan pintu I kampus Unhas, jalan Perintis Kemerdekaan Km 10, Makasar. Polisi berdalih, aksi kekerasan ini dilakukan karena mahasiswa mengganggu lalu lintas di depan kampus. Tapi, disisi lain, pihak polisi sedang membela sebuah kebijakan neoliberal yang akan menendang orang miskin dari kampus. Akibat aksi brutal polisi, 6 orang mahasiswa ditangkap, dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Selengkapnya...
 
Buruh Deklarasikan Persatuan Buruh Reformasi untuk Dorong Artikulasi Perjuangan Politik Pekerja

bravo.jpgJakarta, Berdikari Online (14/12/08); 500-an pekerja dari Jakarta, bogor,tangerang, dan bekasi mendeklarasikan pendirian Persatuan Buruh Reformasi (PBR) di aula gedung Trisula, Ciniki, Jakarta, hari minggu (14/12). Acara tersebut selain dihadiri ketua Umum PBR dan jajaran DPP PBR, juga dihadiri oleh Risal Ramli. Menurut Katarina Puji Astuti, ketua panitia, deklarasi Persatuan Buruh Reformasi dimaksudkan untuk memberikan saluran politik kepada suara-suara rakyat pekerja, yang selama ini dikucilkan dan dipinggirkan dari panggung politik, melalui beberapa calon anggota legislatif (Caleg) dari pekerja.

Selengkapnya...
 
Sosialisasi PBR dan Caleg PBR Lampung

 

 

Dona Sorenty Moza, Caleg Partai Bintang Reformasi, PBR, DPRD Lampung Barat via SMS memberitahukan bahwa di Lampung akan dilaksanakan Pertemuan sosialisasi PBR dan sosialisasi caleg PBR. Pertemuan akan dilaksanakan pada hari sabtu dan minggu, pukul 19.30 di Pekon Fajar Bulan dan Bedeng 1 Kecamatan Waytenong Lambar. Pertemuan bertujuan untuk konsolidasi organisasi PBR dalam rangka memenangkan pemilu 2009. Untuk kejelasan lebih lanjut bisa menghubungi Donna di 081540057149. (ajs)

 
Persatuan Buruh reformasi : Segera Batalkan SKB Empat menteri!

Reporter : Ulfa Ilyas

di ambil dari OkezoneJakarta, 30/10/2008 : Sekitar 80-an Aktivis Buruh, yang tergabung dalam Persatuan Buruh reformasi, melakukan aksi massa menuntut pembatalan SKB empat menteri di depan Istana Negara, kamis, 30/10/08. Para buruh mememulai aksinya di depan kantor Bank Indonesia (BI), dan selanjutnya melakukan longmarch ke istana Negara. Aksi buruh tersebut cukuplah unik, karena ketika hendak menuju Istana Negara, massa aksi melakukan Jalan dengan cara berjalan mundur, "kami berjalan mundur sampai  istana Negara menunjukkan bahwa kehidupan ekonomi dibawah pemerintahan SBY-JK mengalami kemunduran"  Demikian Ungkap Desi Arisanti, Sekjend FNPBI, kepada berdikari online.

Selengkapnya...
 
FNPBI Kota Bali Menolak SKB empat Menteri

Bali, 29/10/07, berdikari-online: SKB tentang perubahan pengaturan pengupahan, yang baru saja ditandatangi oleh empat menteri, tanggal 24 oktober lalu, mulai mendapat penolakan oleh kaum buruh di berbagai kota di Indonesia, termasuk Bali. Dalam aksinya, 300-an buruh yang melakukan aksinya di gedung DPRD tingkat I Bali, menilai SKB 4 menteri sebagai pengalihan beban krisis financial di AS ke pundak buruh Indonesia. Massa aksi, yang didominasi ibu-ibu dan membawa anaknya, rata-rata merupakan buruh yang belum mendapatkan upah sesuai dengan UMP.

Selengkapnya...
 
Setujukah Anda jika seluruh kontrak pertambangan ditinjau untuk menjamin ketahanan energi nasional?
 

Visitor Online