|
diterbitkan dalam:
NACLA Report of the Americas, Empire & Dissent;
Vol. 39 No. 2 September/October 2005
Diterjemahkan oleh Data Brainanta, Staff Relasi
Internasional DPP Papernas
Kemampuan presiden Hugo Chavez untuk terus-menerus menjalankan
berbagai reformasi signifikan di tengah permusuhan AS dan oposisi domestik
dukungan AS memberikan pengaruh penting bagi perjuangan progresif di Amerika
Latin. Kesuksesan Chavez meletakkan keraguan pada pandangan bahwa dalam dunia
kapitalisme global saat ini tidak mungkin lagi bagi negeri-negeri Amerika Latin
dan Karibia untuk secara efektif melawan tatanan neoliberal
"pasar-bebas" .
Persyaratan berbasis-pasar yang berkelanjutan bagi segala
bantuan ekonomi (termasuk penghapusan hutang) dari Amerika Serikat dan
institusi keuangan internasional dominasi AS mungkin memperkuat pandangan bahwa
"tidak ada alternatif" terhadap kebijakan pasar-bebas, sebagaimana
terkenal dicetuskan oleh Thatcher. Tapi pengalaman Chavez bertentangan dengan
diktum Thatcher dan mengangkat pertanyaan menarik tentang apakah jalan Venezuela dapat
dipraktekkan di negeri-negeri Amerika Latin dan Karibia lainnya. Naiknya
berbagai pemerintahan kiri-tengah ke kekuasaan dalam beberapa tahun terakhir di
Argentina, Brasil dan Uruguay menjadikan
pertanyaan ini dalam sorotan.
Sejak awal sasaran kunci Chavez adalah untuk mencapai - dan
mempertahankan - kekuasaan negara untuk mendorong perubahan radikal. Untuk
tujuan itu, ia membangun partai politik terbesar di negeri itu, Gerakan
Republik Kelima (MVR), yang telah memerintah sejak 1998 dengan beraliansi
dengan partai-partai kiri yang lebih kecil. Sebelum berkuasa, ia mengkritik
Fransisco Arias Cardenas, orang kedua pemegang komando dalam kudeta militer
gagal yang dipimpinnya pada 1992, karena mengincar jabatan gubernur negara
bagian pada 1995 bukannya berkonsentrasi mencapai kekuasaan nasional. Sebagai
respon jalan lokal yang dipilih Arias, Chavez menyatakan, "Merebut
kekuasaan melalui jabatan walikota atau gubernur untuk memiliki panggung bagi kemajuan-kemajuan
lebih jauh adalah kebohongan yang akan selalu menenggelamkanmu ke dalam
rawa-rawa."
Gebrakan radikal aksi-aksi Chavez sejak kemenangan elektoral
awalnya pada 1998 melampaui keumuman dan diskursus. Memang, banyak program
reformasi dan aksinya telah merongrong kepentingan ekonomi kaum berkuasa Venezuela dan
kelompok-kelompok transnasional. Pemerintahan MVR, contohnya, telah menahan
laju dari skema yang dijalankan oleh pendahulu neoliberal Chavez yang berpihak
pada privatisasi jaminan sosial, industri aluminum dan industri minyak yang
teramat penting. Alokasi dana pemerintah berpihak pada kaum miskin dan dengan
signifikan menaikkan persentase anggaran nasional untuk pendidikan, kesehatan,
ketenagakerjaan dan kredit bagi unit usaha berskala kecil. Lebih jauh lagi,
peran aktivis Venezuela di OPEC dalam setahun pertama pemerintahan Chavez,
melebihi negara anggota lainnya, berperan mengembalikan harga minyak ke tingkat
tahun 1970an. Dan akhirnya, sejak awal 2005 "Komisi Intervensi" yang
ditunjuk Chavez telah memeriksa kembali legalitas surat-surat kepemilikan tanah
pertanian, dengan demikian mengancam kaum pemilik tanah besar dengan kehilangan
kepemilikannya.
Respon AS terhadap Chavez menyusul terpilihnya ia
pada 1998 dipandu oleh kebijaksanaan konvensional saat itu mengenai keniscayaan
kembalinya ia ke kebijakan neoliberal. Duta Besar AS John Maisto mendukung
pendekatan garis-lunak dan berhasil meyakinkan Departemen Negara bahwa Chavez
harus dinilai dari aksi-aksinya, secara tak langsung menyatakan bahwa retorika
radikalnya tak akan menghasilkan apapun. Pada saat itu, tesis Maisto sepertinya
dapat diterima. Memang, selama kampanye presidensialnya, Chavez harus
melunakkan posisinya yang menyetujui moratorium pembayaran hutang luar negeri
dan sebaliknya mengkonsentrasikan proposal untuk majelis konstituante yang akan
menghasilkan perubahan politik internal dengan penulisan kembali Konstitusi.
Selama dua tahun pertamanya menjabat, Chavez menekankan
reformasi politik. Pada 2001, walau demikian, pemerintahan MVR mengesahkan
rangkaian undang-undang dengan kandungan sosio-ekonomi yang signifikan,
termasuk reformasi agraria dan sebuah undang-undang yang menjamin kepemilikan
mayoritas negara dalam semua operasi industri minyak. Radikalisasi pemerintahan
ini bersamaan dengan permulaan Administrasi Bush, dan pengerasan sikap global Washington menyusul
9/11. Perkembangan di AS ini membuat kaum oposisi Venezuela semakin berani, yang kini
mengklaim bahwa hari-hari Chavez sebagai presiden telah dihitung. Keyakinan kaum
oposisi terhadap tesis Thatcher tentang keniscayaan neoliberalisme bisa jadi
telah mempengaruhi para pimpinannya untuk meremehkan Chavez dan berakibat
bencana bagi mereka. Kesalahan kalkulasi ini terterjemahkan menjadi berbagai
skema-skema gagal untuk mendepak Chavez tanpa rencana untuk menghadapi
kekalahan.
Pada 2002, sikap AS terhadap Chavez mulai bersinggungan
dengan rencana partai-partai tradisional kaum oposisi yang selama itu
mempertahankan sikap tak berkompromi. Dukungan Administrasi Bush pada kudeta
singkat terhadap Chavez pada April 2002, persetujuannya terhadap pemogokan umum
10-minggu yang sama sia-sianya pada tahun itu dan upaya-upayanya yang lebih
baru belakangan ini untuk mengisolasi Venezuela dari para tetangganya
bukanlah sekedar reaksi terhadap reformasi-reformasi tertentu yang mengancam
kepentingan ekonomi. Washington takut terhadap
"efek demonstrasi, " yakni pengaruh yang dapat disebabkan oleh contoh
Venezuela
terhadap negeri lain di benua tersebut.
Efek demonstrasi yang cukup berbeda telah berpihak pada Washington 10 tahun
lebih awal dengan keruntuhan Uni Soviet. Para
kampiun neoliberalisme dan globalisasi mengacu pada nasib sosialisme Soviet
sebagai bukti nyata bahwa segala bentuk intervensi negara dalam ekonomi
ditakdirkan gagal. Dengan meletakkan keraguan pada tiap kemungkinan yang dapat
efektif menentang sistem kapitalisme global yang dominan, demonstrasi ini
merugikan kaum kiri sedunia, apa pun pandangan mereka terhadap Uni Soviet.
Ketakutan Washington
adalah Venezuela Chavez dapat memberikan efek sebaliknya dengan
mendemonstrasikan kemungkinan melawan model neoliberal dan mendirikan
alternatif yang mampu bertahan.
Pengaruh Chavez di hemisfer (belahan bumi, pen.) tersebut
dapat dirasakan di tingkat rakyat maupun diplomatik. Ia telah menjadi pahlawan
bagi jutaan rakyat Amerika Latin yang tak diistimewakan, yang mengagumi
keberaniannya dan dengan cermat mencatat keberhasilan- keberhasilan politiknya.
Beberapa aktivis dan pemimpin telah bereaksi serupa. Berbeda dengan reaksi
bercampur terhadap pidato Lula pada Forum Sosial Dunia 2005 di Porto Alegre, Brasil, Chavez mendapat tepukan
menggelegar. Chavez menekankan komitmennya pada perjuangan akar-rumput ketika
ia mengatakan kepada massa: "Saya di sini
bukan sebagai Presiden Venezuela...
Saya hanya Presiden karena situasi-situasi tertentu. Saya Hugo Chavez dan saya
seorang aktivis sekaligus revolusioner. "
Di tingkat diplomatik, Chavez telah berhati-hati untuk
menghindari kesalahan Kuba pada tahun 1960an, ketika Fidel Castro berseru kepada
kaum kiri dan rakyat kebanyakan di seluruh Amerika Latin, tapi dengan melakukan
itu kehilangan strategi aliansi dengan pemerintahan yang ada. Akibatnya, Washington
dapat mengisolasi Kuba dari komunitas bangsa-bangsa Amerika Latin. Dengan
kontras, terlepas dari retorikanya yang berapi-api, Chavez menjaga hubungan
baik dengan presiden-presiden berorientasi neoliberal seperti Vicente Fox di
Mexico, Ricardo Lagos di Chile dan Alejandro Toledo di Peru, yang mana
ketiganya segera menolak kudeta anti-Chavez pada 2002. Chavez bahkan
membantu Presiden Bolivia, Carlos Mesa, yang sedang susah payah bertahan
sebelum dipaksa turun Juni lalu, dengan berseru kepada gerakan sosial Bolivia
yang siap bertempur untuk membiarkannya menyelesaikan masa jabatannya.
Kepemimpinan dan inisiatif diplomatik Chavez dapat
berpotensi membawa perubahan dramatik di Amerika Latin - tak diragukan lagi ini
sumber keprihatinan bagi Washington.
Kaum kiri telah mencatat kemajuan elektoral dalam beberapa tahun belakangan,
dan kemenangan calon-calon kiri-tengah dalam pemilu presidensial di Bolivia,
Ekuador, Meksiko dan Nikaragua dalam satu setengah tahun ke depan akan lebih
jauh lagi merubah korelasi kekuatan di benua itu.
Pergeseran politik seperti itu dapat menyebabkan aksi
kolektif dalam berbagai lini (front) menurut garis yang telah ditarik oleh
Chavez. Ia menyerukan pembentukan persekutuan hemisferik Amerika Latin -
"Alternatif Bolivarian untuk Amerika" (ALBA) - sebagai alternatif
terhadap Wilayah Perdagangan Bebas Amerika (FTAA) yang disponsori Washington. Chavez
berpengaruh dalam membuyarkan rencana-rencana yang sejak lama dipupuk oleh Bush
untuk mendirikan FTAA pada 2005.
Dukungan Chavez terhadap negosiasi kolektif hutang luar
negeri Amerika Latin bahkan jauh lebih membahayakan kepentingan AS. Dalam hal
ini, ia telah mendesakkan dalam berbagai konferensi internasional agar 10%
pembayaran hutang luar negeri dialihkan kepada Dana Kemanusiaan Internasional
yang akan menyediakan bantuan bagi program-program sosial tanpa menyertakan
ikatan-ikatan neoliberal seperti biasanya. Chavez mendapat dukungan resmi bagi
rencana pembentukan Dana ini pada KTT Presiden Ibero-Amerika yang digelar bulan
November 2003.
Bahkan dalam subyek yang lebih sensitif, Washington secara khusus memprihatinkan
de-dolarisasi penjualan minyak internasional. Ekonomi AS
disokong oleh penggunaan dolar secara khusus dalam pertukaran internasional dan
sebagai cadangan mata-uang utama di dunia. Di bawah Chavez, Venezuela
melangkahi dolar dengan menjalankan kesepakatan- kesepakatan barter non-moneter
untuk minyaknya dengan lebih dari selusin negeri Amerika Latin dan Karibia. Ia
telah menyerukan negara-negara OPEC lainnya untuk membentuk kesepakatan serupa.
Satu kesepakatan pertukaran serupa itu melibatkan minyak untuk ditukar dengan
kehadiran 12.000 dokter Kuba, yang telah mendirikan klinik dan bekerja tanpa
bayaran di wilayah-wilayah termiskinkan di seluruh negeri itu.
Dalam OPEC, Chavez menekankan penurunan daya beli dolar
sebagai argumen untuk meningkatkan harga minyak denominasi dolar. Dan beberapa
perwakilan pemerintah Venezuela
telah mengangkat kemungkinan menjual persentase minyak dalam mata uang euro.
Duta besar negeri itu untuk Rusia sekaligus seorang pakar perminyakan,
Francisco Mieres, mendiskusikan usulan ini dalam konferensi tahun 2001 di
Moscow bertemakan "Ancaman Tersembunyi dari Krisis Mata Uang".
Walau demikian, lebih baru ini ketegangan dengan industri
minyak telah termanifestasi. Pada awal 2005 Exxon-Mobil mengumumkan bahwa
mereka mempertimbangkan arbitrase untuk menentang peningkatan royalti
pemerintah dari 1% ke 16,66% dalam penjualan minyak non-konvensional dari
wilayah Timur negeri itu. Exxon Mobil mengklaim bahwa kenaikan itu melanggar
ikatan kontrak-kontrak legal, tapi pemerintah menekankan bahwa kesepakatan sebelumnya
dibuat ketika harga minyak - dan keuntungannya - hanyalah fraksi kecil dari
tingkat harga saat ini. Pada saat itu juga, bendera merah diangkat oleh sektor
swasta asing. Deutsche Bank baru-baru ini menurunkan penilaiannya terhadap
perusahaan minyak berbasis AS Conoco-Philips, salah satu investor utama di
Venezuela, karena keprihatinannya bahwa hubungan yang menguntungkan saat ini
antara perusahaan minyak transnasional dan pemerintah Venezuela dapat segera
berubah.
Pengalaman Venezuela
menunjuk ke arah berlawanan dari penulisan globalisasi saat ini yang
meminimalkan peran negara-bangsa, terutama dalam negeri-negeri berkembang. Para analis dengan perspektif ini berargumen bahwa dalam
ekonomi global saat ini, penekanan pada kedaulatan nasional oleh pemerintah-pemerintah
kuat di dunia-ketiga tidak berpotensi untuk transformasi dan lebih lagi, itu
bahkan tidak dimungkinkan. Para penulis yang
mendukung tesis ini terbentang dari kiri hingga kanan dalam spektrum politik.
Mereka yang di kanan, yang membela kebijakan luar negeri AS dan formula-formula
pasar-bebas, mengasosiasikan negara-negara kuat di dunia ketiga sebagai
oligarki lokal dan "kapitalisme kroni," yang dituduh sebagai penyebab
kegagalan besar-besaran neoliberalisme dalam memenuhi harapannya.
Beberapa penulis kiri yang menganalisa globalisasi juga
memandang penguatan negara-negara dunia ketiga sebagai kesia-siaan. Sebagaimana
telah kita lihat, tujuan Chavez sedari awalnya adalah untuk mencapai kekuasaan
di tingkat nasional. Tujuan ini sangat dicurigai oleh beberapa dari mereka yang
telah mencoret pentingnya negara-bangsa dan sebaliknya memuja perjuangan untuk
otonomi lokal dan bersolidaritas dengan kelompok-kelompok seperti Zapatista di
Meksiko.
Michael Hardt, contohnya, ko-penulis dari buku yang mendapat
banyak pujian, "Empire", menunjuk pada dua posisi berbeda mengenai
"peran kedaulatan nasional" yang muncul dalam beberapa Forum Sosial
Dunia. Di satu sisi, katanya, para pemimpin yang berasal dari organisasi yang
umumnya terkenal secara internasional, ketika berpartisipasi dalam Forum
membela kedaulatan nasional dunia-ketiga "sebagai penghalang defensif
terhadap kontrol kapital asing dan global." Posisi kedua didukung oleh
mayoritas dari mereka yang menghadiri Forum dan berasal dari gerakan sosial
yang terorganisir menurut beragam isu yang saling melengkapi satu sama lain.
Kelompok kedua ini "menentang segala solusi nasional dan sebaliknya
mengupayakan globalisasi demokratik." Posisi kedua pada dasarnya
demokratik dan menentang kapital, demikian argumen Hardt, sementara yang
pertama bercirikan atas-ke-bawah (top-down) dan berpotensi menjadi otoriter.
Hardt menyimpulkan bahwa "struktur terpusat dari negara berdaulat itu
sendiri bertentangan dengan bentuk-jaringan horizontal (horizontal network-form)
yang dikembangkan oleh gerakan [yang identik dengan posisi kedua]."
Tapi bertentangan dengan pernyataan Hardt, kekuasaan Chavez
selama enam setengah tahun mendemonstrasikan bahwa pemerintahan dunia-ketiga
dapat dengan kokoh menegakkan kedaulatan nasional dan di saat yang sama
memajukan suatu agenda nasionalis-progresif untuk melawan kepentingan ekonomi
yang berkuasa. Karakterisasi Hardt bahwa pemerintahan 'pembebasan nasional'
dunia-ketiga sifat demokratiknya diragukan tidaklah sejalan dengan kompleksitas
transformasi yang sedang berjalan di Venezuela. Meskipun gerakan
Chavista dimulai secara sangat "vertikal," dua rangkaian pemilihan
internal dalam MVR (satu untuk pimpinan partai nasional dan satunya lagi
dilangsungkan April lalu untuk memilih kandidat dalam pemilu lokal) merupakan
langkah-langkah ke arah demokratisasi internal, terlepas dari problem-problem
prosedural yang tercipta.
Sering pula diargumentasikan bahwa Venezuela Chavez terlalu
berbeda dari negeri Amerika Latin lainnya untuk dapat memberikan pengaruh yang
berkelanjutan. Harga minyak yang tinggi mendanai program-program kerakyatan dan
maka menempatkan Venezuela
ke dalam liga tersendiri. Lebih jauh lagi, Chavez mendapat dukungan krusial
dari struktur militer yang perwiranya secara historik berasal dari kelas
menengah dan menengah-bawah, secara tajam kontras dengan sifat ke-kasta-an
angkatan bersenjata yang ada di hampir seluruh benua itu.
Ini adalah argumen-argumen yang cukup akurat, tapi walau
bagaimanapun "proses revolusioner" Venezuela mengandung
pelajaran-pelajaran penting bagi mereka di Amerika Latin yang mengkampiunkan
keadilan sosial dan transformasi- transformasi yang dibutuhkan untuk
mencapainya. Pelajaran pertama adalah memupuk suara elektoral mayoritas yang
substansial sangatlah diperlukan untuk mengimplementasikan perubahan-perubahan
sosial berjangkauan- luas (far-reaching) melalui cara-cara demokratik. Chavez
memperoleh 60% suara dalam sembilan pemilu yang digelar sejak 1998. Hasil ini
tampaknya membuktikan pengamatan bahwa suara mayoritas tipis atau suara
pluralitas, seperti 36% suara yang memilih Salvador Allende di Chile pada 1970,
tidak mewakili suatu mandat untuk perubahan radikal.
Kedua, partisipasi aktif dan mobilisasi merupakan komponen
kunci dalam proses tersebut. Chavez telah bersandar tidak sekedar pada dukungan
elektoral atau pasif. Ia telah menjalankan strategi mobilisasi rakyat yang
berkelanjutan dalam menghadapi aksi-aksi insurgensi musuh-musuhnya yang
terbukti sangat diperlukan bagi keberlangsungan politiknya termasuk kembalinya
ia setelah kudeta April 2002. Aksi-aksi jalanan massif yang mendukung proses
Chavista telah dimungkinkan berkat keyakinan para jajaran bawah Chavistas bahwa
retorika Chavez didasarkan pada kenyataan dan komitmen melalui perubahan, bukan
manipulasi.
Pelajaran ketiga dari pengalaman Chavez adalah pentingnya
ketepatan waktu (timing) dan pendalaman proses transformasi secara konstan via
memperkenalkan tujuan baru menyusul tiap kemenangan politik.
Kemenangan-kemenang an yang diikuti dengan slogan-slogan dan usulan-usulan baru
termasuk pembentukan majelis konstituensi nasional pada 1999, kekalahan kudeta
April 2002, kekalahan pemogokan umum Februari 2003, kekalahan pemilu penurunan
presiden pada Februari 2003 dan pemilu kegubernuran dua bulan kemudian di mana
Chavistas menang di seluruh negeri kecuali dua negara bagian.
Meski demikian, Venezuela masih jauh dari
mengembangkan suatu sistem ekonomi baru yang memungkinkan Chavez untuk mengemas
dan mengekspor suatu model ke negeri Amerika Latin lainnya. Pada Forum Sosial
Dunia 2005 ia menyatakan diri sebagai "sosialis" dan menambahkan:
"Kita harus merebut kembali sosialisme sebagai suatu tesis, suatu proyek
dan suatu jalan, tapi suatu sosialisme jenis baru, yang manusiawi dan
menempatkan manusia, bukan mesin atau pemerintah, di atas segalanya. Inilah
perdebatan yang perlu kita kedepankan di seluruh dunia." Venezuela,
walau begitu, belumlah mendirikan sosialisme, setidaknya dalam pengertian
tradisional kata tersebut, karena belum ada sektor ekonomi yang didaftarkan
untuk dinasionalisasi. Bila ada suatu model baru yang muncul, ia didasarkan
pada prioritas terhadap kebutuhan sosial, kemunculan koperasi pekerja dan
produsen kecil baik di wilayah pedesaan dan perkotaan, dan penolakan pemerintah
terhadap aliansi dengan kelompok kapitalis besar meskipun tidak membuang modus
vivendi [hidup berdampingan dengan lawan, pen.] dengan mereka.
Kemampuan Venezuela
dalam mempengaruhi bangsa-bangsa di Amerika bersandar pada keberhasilan
pelaksanaan kebijakan dan strategi Chavez. Dalam tahap ini, aspek terpenting
dari efek demonstrasi Chavez adalah nasionalismenya, yang mendorongnya untuk
menepis paksaan-paksaan AS; anti-neoliberalisme nya, yang menghadang
privatisasi; dan prioritas sosialnya yang telah diterjemahkan ke dalam program-program
spesial di bidang kesehatan dan pendidikan. Emulasi [peniruan, pen.]
kebijakan-kebijakan Chavez oleh negeri-negeri tetangga akan menunjukkan,
kalaupun ada, bahwa pemerintah dunia-ketiga berada sangat tepat di
tengah-tengah pertarungan politik dan bahwa alternatif nasional sesungguhnya
ada, terlepas dari peringatan-peringat an serius dari para penulis terunggul
tentang globalisasi.
Tentang Penulis
Steve Ellner telah menerbitkan karya-karyanya yang
ekstensif tentang politik dan sejarah Amerika Latin. Sejak 1994, ia mengajar
kuliah sarjana di Sekolah Hukum dan Ilmu Politik di Universidad Central de
Venezuela (UCV).
Quote this article on your site | Dilihat: 879 | Cetak | E-mail
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |