|
“Padamu Negeri kami
berjanji
Padamu Negeri kami
berbakti..”
(Potongan lagu wajib Padamu Negeri ciptaan: Kusbini yang
dinyanyikan bersama-sama oleh 1000-an massa
Papernas di halaman Gedung GKBI Jakarta)
Berdikari, Jakarta- Untuk kelima kalinya kantor ExxonMobil Jakarta
‘digoyang’ oleh massa
pendukung Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas). Seribuan massa yang
berasal perwakilan buruh, mahasiswa, dan kaum miskin perkotaan –lengkap dengan
baliho, umbul-umbul, spanduk, poster,
yel-yel, lagu, beserta orasi-orasinya- kembali datang untuk menyemarakkan
suasana ‘jam makan siang’ di halaman Gedung GKBI Jalan Jenderal Sudirman hari
ini (29/04).
Sebagai penghormatan bagi kaum
buruh sedunia yang akan memperingati MayDay dua hari berselang, diberikanlah
kesempatan oleh panitia aksi bagi Ketua Umum Front Nasional Perjuangan Buruh
Indonesia (FNPBI) Dominggus Oktavianus untuk memberikan pidato politik pembuka.
Dalam pidatonya kali ini, pemuda asal NTT itu menegaskan pentingnya persatuan perjuangan
kaum buruh Indonesia
untuk menasionalisasi perusahaan pertambangan asing. Selain itu ia juga
berbicara tentang Indonesia
sebagai bangsa yang besar. Berikut cuplikan pidatonya,
“Bangsa Indonesia
sebenarnya adalah bangsa yang besar. Berbagai syarat untuk menjadi bangsa yang
besar, seperti: kekayaan alam yang melimpah dan penduduk yang banyak telah kita
miliki. Lalu mengapa sampai saat ini bangsa Indonesia bagaikan bangsa kuli di
antara bangsa-bangsa lain? Itu dikarenakan ada satu syarat yang kurang: kita
tidak pernah benar-benar memiliki dan memanfaatkan kekayaan alam itu untuk
kepentingan seluruh rakyat. Semua kekayaan alam telah digadai begitu saja
kepada perusahaan-perusahaan asing selama berpuluh tahun.”
Dalam penutup pidatonya,
Dominggus kembali menyerukan kepada Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden
SBY, untuk segera mengeluarkan Dekrit Nasionalisasi Pertambangan Asing sebagai
satu-satunya jalan keluar untuk krisis.
Berselang kemudian datanglah
giliran Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Lalu Hilman
Afriandi untuk juga menyumbangkan pidato politiknya sebagai perwakilan
mahasiswa. Dalam pidatonya yang cukup singkat, Lalu Hilman menekankan
pentingnya menasionalisasi pertambangan untuk mewujudkan pendidikan dan
kesehatan gratis bagi seluruh rakyat.
Setelah berbagai orasi politik
dari beberapa perwakilan Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) diperdengarkan,
massa aksi
kemudian bergeser ke Istana Negara sesuai jadwal aksi yang telah ditentukan
panitia. Puluhan bus berhias bendera dan umbul-umbul pun bergerak dari Jalan
Jenderal Sudirman menuju ke Medan Merdeka.
Di lokasi aksi dekat lstana
Negara akhirnya dapat diperdengarkan pidato politik yang sangat ditunggu-tunggu
oleh massa,
yaitu dari Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Papernas Dita Indah Sari. Saat
itu massa aksi
sedang duduk beristirahat sambil makan dan minum.
Seperti biasanya, Dita mengawali
pidatonya dengan menyapa lembut seluruh elemen massa aksi. Lambat laun retorika seputar Indonesia
sebagai bangsa kuli yang berpuluh tahun terhisap mengalir lancar dari mulutnya,
nadanya semakin tinggi,
“Purnomo Yusgiantoro selaku
pimpinan Departemen ESDM dan SBY selaku Presiden Republik Indonesia harus
bertanggung jawab karena telah memiskinkan rakyat selama empat tahun ini-
menyebabkan rakyat kita menjadi kuli di antara bangsa-bangsa lain. Tangan
mereka lah yang telah membubuhkan tanda tangan pada seluruh kontrak
pertambangan yang merugikan Indonesia.
Kekayaan alam pertambangan adalah
titipan Tuhan untuk rakyat. Apa hak mereka berdua menggadaikannya kepada
kepentingan asing!? Mereka tidak berhak.
Oleh karena itulah ibu-ibu dan bapak-bapak, jangan pernah lagi mencoblos SBY
pada pemilu tahun 2009! Kita ingin Presiden Baru, Partai Baru, dan Haluan
Ekonomi Baru di 2009!”
Seruan tersebut segera disambut
oleh riuh rendah dan tepuk tangan massa
aksi. Sebagian massa
yang tadinya duduk pun akhirnya berdiri akibat terbawa oleh suasana yang gegap
gempita.
Ibu satu anak yang juga menjabat
sebagai Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini juga menjelaskan kepada massa aksi tentang
pentingnya memanfaatkan momen calon perseorangan dalam pilkada ke depan demi
menempatkan pemimpin-pemimpin yang berasal langsung dari rakyat, terutama
kalangan rakyat miskin.
Sebelum dibubarkan, acara sempat
diisi oleh aksi teaterikal yang dipersembahkan oleh perwakilan LMND, SRMI, dan
FNPBI wilayah Jakarta serta dua pidato politik penting dari Ketua Umum Serikat
Tani Nasional (STN) Yudi Budi Wibowo dan Sekretaris Jenderal DPP Papernas
Harris Sitorus.
Yudi menekankan pentingnya
menasionalisasi pertambangan asing, terutama yang menguasai kekayaan gas alam
nasional, demi membangun industrialisasi pertanian.
Sedangkan Harris Sitorus lebih
menekankan soal pemgembalian martabat bangsa Indonesia dengan melakukan
nasionalisasi atas perusahaan pertambangan asing.
“Kita ini bangsa yang besar
karena rakyatnya banyak, wilayahnya luas, juga kekayaan alam yang melimpah.
Namun saat ini kita seperti tidak memiliki martabat saja. Kita semua ini
seperti budak saja layaknya di hadapan bangsa asing! Ini semua tak lain disebabkan
oleh ‘londo-londo ireng’ (red: komprador) itu.” (Sambil tangannya menunjuk ke
arah Istana Negara)
Sebelum menutup pidatonya, sejalan
dengan Dita, Harris secara lebih spesifik menyerukan agar seluruh masyarakat
miskin yang tergabung di SRMI mulai berani mengambil kepemimpinan di
lingkungannya berada.
“Ibu-ibu dan bapak-bapak sudah
harus berani memimpin warganya masing-masing. Kepemimpinan mulai dari setingkat
RT, RW, Lurah, sampai Camat harus kita rebut! Kita akan tunjukkan bagaimana
cara kita, SRMI, memimpin rakyat. Karena tidak tertutup kemungkinan, ke
depannya Marlo Sitompul yang akan memimpin Jakarta atau Dita Indah Sari yang akan
memimpin bangsa.”
Sudah saatnya rakyat miskin
bangkit merebut kepemimpinan bangsa ini. (Gs)
Quote this article on your site | Dilihat: 947 | Cetak | E-mail
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |